Ganjar Pranowo: Ilmu Titen Bisa Kurangi Risiko Bencana Alam

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, meminta kepada masyarakat untuk kembali menghidupkan kearifan lokal, yakni ilmu titen dan kentongan.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribun Jogja
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membuka acara Dieng Culture Festival (DCF) 2021 secara daring dari ruang kerjanya, Senin (1/11/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, meminta kepada masyarakat untuk kembali menghidupkan kearifan lokal, yakni ilmu titen dan kentongan, dalam menghadapi bencana alam.

Kearifan lokal diharapkan mampu meminimalisasi risiko korban jiwa maupun luka akibat bencana.

‘Tugas pertama adalah baca setiap hari informasi dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Red). Sebarkan informasi itu, kemudian kita latihan. Kalau bisa tahu informasi dan data sains dari BMKG, kita bisa menggunakan hal-hal bersifat tradisional untuk menghadapi bencana,” katanya, Kamis (4/11/2021).

Asal tahu saja, ilmu titen atau peka terhadap tanda alam adalah cara tradisional yang dapat dilakukan oleh masyarakat.

Contohnya, saat turun hujan deras dengan durasi lama, masyarakat di area rawan harus segera mengungsi.

“Kalau hujan sudah deras, masyarakat segera pergi. Kalau hafal ada potensi longsor, segera minggir. Kalau telanjur terjadi longsor, gunakan titir atau kentongan untuk memberi tanda ke orang lain,” tambah Ganjar.

Langkah tradisional tersebut, menurut Ganjar, penting dilakukan oleh masyarakat Jateng sehingga keamanan tetap terjaga dan tidak sampai timbul korban jiwa. Ia mengimbau agar masyarakat Jateng selalu siaga.

“Saya berterima kasih kepada BMKG yang selalu memberi informasi terkait iklim dan cuaca. Mari kita waspada. Sekarang sudah November. Puncak hujan kemungkinan terjadi pada Desember. Kita wajib siaga,” ujarnya.

Plt Kalakhar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, Safrudin, sepakat dengan imbauan Ganjar.

Ia menyebut, inisiasi gubernur berupa ilmu titen dan kentongan masih relevan di kalangan masyarakat.

“Kentongan termasuk sistem peringatan dini bagi masyarakat untuk waspada terhadap potensi peristiwa bencana alam. Kami mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu mematuhi informasi dari BMKG,” tuturnya.

Safrudin mengemukakan, bencana seperti banjir dan tanah longsor memang terjadi setiap musim hujan tiba.

Pemprov Jateng sudah menyiapkan langkah, termasuk mengingatkan kabupaten/kota terkait ancaman hidrometeorologi.

“Kami sudah mengirim surat ke sekretaris daerah seluruh kabupaten/kota di Jateng untuk melakukan antisipasi. Sebab, kemungkinan, musim penghujan tahun ini ada La Nina seperti penjelasan BMKG,” tambahnya.

Ia melanjutkan, BPBD Provinsi Jateng telah membuat peta rawan bencana dan disampaikan ke semua kabupaten/kota.

BPBD Provinsi Jateng pun berkoordinasi dengan TNI, Polri, relawan, dan memutakhirkan data kependudukan.

“Kami minta kepada kabupaten/kota untuk menyebar kontak BPBD setempat, yang bermanfaat jika terjadi kondisi darurat. Melalui surat gubernur, semua kabupaten/kota pun apel siaga hingga kesiapsiagaan,” tukasnya. (bby/igy)

Baca Tribun Jogja edisi Jumat 5 Nopember 2021 halaman 01

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved