Breaking News:

AWAS! Pengemudi di Jalan Tol Rentan Terkena Microsleep, Ini Penjelasan dan Cara Mengantisipasinya

Microsleep bisa terjadi karena kondisi perjalanan yang stagnan. Bisa disebabkan rute yang jalurnya lurus terus atau jalan yang sudah sering pengemudi

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Rina Eviana
Shutterstock
Ilustrasi Microsleep 

Tribunjogja.com - Belakangan, kasus kecelakaan maut di tol sering terjadi. Terbaru adalah tragedi kecelakaan rombongan Fakultas Peternakan UGM di Tol Cipali dan kecelakaan yang menewaskan pasangan artis Vanessa Angel dan Bibi Andriyansyah di Tol Nganjuk arah Surabaya Kamis kemarin.

Saat mengemudi di jalan tol, pengemudi paling rentan terserang microsleep atau kondisi ketika tubuh tertidur sementara.

Petugas melakukan evakuasi mobil yang yang ditumpangi Dekan Fakultas Peternakan UGM yang kecelakaan di kilometer 113 tol Cipali, Kamis (4/11/2021)
Petugas melakukan evakuasi mobil yang yang ditumpangi Dekan Fakultas Peternakan UGM yang kecelakaan di kilometer 113 tol Cipali, Kamis (4/11/2021) (Dok Unit Laka Lantas Polres Subang)

Tapi, akibatnya sangat fatal, karena bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengatakan, microsleep bisa terjadi karena kondisi perjalanan yang stagnan.

Bisa disebabkan rute yang jalurnya lurus terus atau jalan yang sudah sering pengemudi lewati.

"Ketika kondisi stagnan pengemudi cenderung bosan sehingga hanya melihat jalan tanpa melakukan antisipasi. Kondisi ini yang membuat otak tidak aktif bekerja," ujar Jusri, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Jusri menambahkan, microsleep bisa juga terjadi saat mata terbuka, ketika tengah berkendara. Kondisi di mana mata terbuka, tetapi kesadaran hilang, ini tentu sangat berbahaya.

"Misalnya, seandainya mobil sedang melaju pada kecepatan 70 kilometer per jam (kpj), microsleep selama 3 detik membuat kendaraan melaju tanpa kendali sejauh 200 meter," kata Jusri.

Jangan abaikan kondisi microsleep yang berawal dari kelelahan ini. Langkah paling baik adalah berhenti di tempat peristirahatan atau rest area dan istirahat sejenak.

"Bisa dibuat waktu periodik istirahat, misal setiap perjalanan dua jam sekali berhenti istirahat," ujar Jusri.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved