Breaking News:

Sumpah Pemuda di Era Milenial

Dalam catatan sejarah perjuangan menuju Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, peran pemuda pemudi Indonesia memiliki posisi yang penting.

Editor: ribut raharjo
dok. Tribun Kaltim
Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 

Kolonialisme yang dikenal sebagai kooptasi teritorial saat ini hampir tidak ada kecuali konflik Israel dan Palestina, tetapi imperialisme gaya baru adalah ancaman nyata bagi suatu negara yang berdaulat yang termanifestasi dalam berbagai wujud dan operasi pada era dunia yang selalu bergerak pada bayang bayang multi konflik sebagai kelanjutan konflik-konflik masa lalu yang pada realitanya tidak pernah benar-benar selesai bahkan cenderung terus bermetamorfosis kepada generasi-generasi baru yang menyebabkan potensi meningkatnya ancaman konflik dan pertikaian antar kelompok di dalam negeri seperti contoh perang Balkan , perang di Sudan, perang di Afganistan , Perang Di Suriah , Perang Saudara di berbagai belahan negara Africa.

Konflik-konflik tersebut sepertinya mengingatkan kembali kepada sejarah masa lalu tentang konflik konflik antar suku, antar kerajaan dan antar kelompok agama di suatu negeri termasuk juga jika kita “flash back “ jauh ke belakang , konflik konflik sejenis juga pernah terjadi di nusantara.

Jika hal hal tesebut kita coba kaitkan dengan thesis para ahli di dunia yang menyatakan bahwa dunia abad 21 akan menguatnya kembali spirit individualisme dan komunalisme akibat perkembangan revolusi industri 4.0, maka fenomena potensi ancaman konflik dalam negeri antar anak bangsa yang didasarkan pada sentimen politik, ideologi agama, budaya dan harapan kerja akan menjadi persoalan serius di era milenial yang memerlukan revitalisasi Sumpah Pemuda 28 untuk menjaga kapital persatuan dan kesatuan nasional di kalangan anak muda yang mendominasi populasi Indonesia sebagai modal dasar pembangun nasional masa kini dan masa datang.

Selain dari itu pula, model anak muda yang terdidik dan terampil antar bidang kompetensi, memiliki jiwa revolusioner yang selalu menjaga api Kemerdekaan 45 dan tidak tunduk pada upaya imperialisme gaya baru serta mau memajukan negerinya dengan sikap-sikap nasionalisme Pancasila sangat diperlukan dalam memajukan bangsa dan negara sekaligus menjaga harmoni sosial yang di- idamkan oleh kita bersama ditengah tengah ancaman konflik dunia antar negara adi daya dan konflik perebutan kekuasaan politik dan peradaban di dalam negeri.

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa seharusnya menggema kembali sebagai retorika kebangsaan kaum muda yang diikuti sikap dan tindakan anak muda untuk tidak mau diadu domba dengan isu isu yang sudah tidak relevan dengan persoalan persoalan peradaban abad 21 .

Sebaliknya anak-anak muda harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan landscape kehidupan akibat dari revolusi industri 4.0 , perubahan iklim dunia, globalisasi dan konflik konflik keagamaan, membaca arah konflik negara adi daya dan posisi masa depan Indonesia dalam pergaulan internasional, Pancasila dan tantangan operasionalnya dalam membangun pola pikir dan tata laku masyarakat dalam mencapai cita cita nasional sekaligus membangun Indonesia agar tumbuh menjadi negara maju.

Kita harus mampu membaca kemajuan negara dan bangsa lain dan jadikan kemajuan itu sebagai cara untuk melakukan instropektif kepada kondisi kemajuan negara dan bangsa indonesia.

Kita tidak bisa menyatakan hebat dan maju jika kita belum mampu mengejar ketertinggalan dari kemajuan negara dan bangsa lain,imperialisme lahir dari kondisi inferioritas suatu negara (bangsa) atas superioritas bangsa lain sehingga dalam menghadapi neo imperialisme pada era milenial, momen Sumpah Pemuda 28 pada era mileneal harus menjadi lecutan bersama untuk membangun negara (bangsa) Indonesia di segala bidang khususnya bidang-bidang kompetensi yang dibutuhkan pada era milenial atau abad 21. Bukan sebaliknya sibuk hal-hal yang merugikan roda pembangunan nasional. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved