Breaking News:

Prediksi Gelombang Ketiga Covid-19 di Indonesia Jika Berkaca Pada China, Inggris dan USA

Kasus Covid-19 di Indonesia terus melandai. Kasus aktif saat ini tercatat hanya di angka 15 ribuan.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Kirill KUDRYAVTSEV / AFP
Petugas khusus Rusia yang mengenakan alat pelindung menyesuaikan masker gasnya saat mendisinfeksi stasiun kereta api Leningradsky Moskow pada 19 Oktober 2021, di tengah pandemi penyakit virus corona yang sedang berlangsung. Rusia secara resmi mencatat 1.015 kematian akibat virus corona pada 19 Oktober, naik dari 998 pada hari sebelumnya 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Kasus Covid-19 di Indonesia terus melandai. Kasus aktif saat ini tercatat hanya di angka 15 ribuan.

Positivity rate hanya sebesar 0,6 persen. Tingkat kematian pun sangat rendah. Ini jelas situasi yang sangat menggembirakan. Apalagi jika melihat pada Juni-Juli 2021 lalu kasus Covid-19 di Indonesia sangat tinggi.

Meski demikian masyarakat harus tetap waspada. Protokol kesehatan (prokes) harus tetap dijaga. Karena bukan tidak mungkin kasus positif Covid-19 akan kembali meningkat.

Bahkan, terjadinya gelombang ketiga pandemi Covid-19 di Indonesia disebut suatu keniscayaan.

Menurut Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, gelombang ketiga kasus Covid-19 pasti akan datang di Indonesia.

Itu bisa terjadi seiring mulai dilonggarkannya prokes dalam sejumlah aktivitas masyarakat. Mobilitas masyarakat pun juga kian meningkat, diiringi dengan intensnya interaksi secara langsung. Hal itu yang menurut Nadia, bisa memicu terjadinya gelombang ketiga.

Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes itu menjelaskan, terjadinya gelombang ketiga juga sesuai dengan sifat SARS-CoV-2 yang tertera pada jurnal ilmiah yang dikeluarkan para ahli.

"Kita tahu dari jurnal ilmiah menyatakan bahwa Covid menimbulkan gelombang epidemiologi berkali kali. Tidak cukup ia mencapai satu puncak gelombang kemudian turun seperti yang saat ini kita alami. Dia akan menimbulkan serangan beberapa kali, baru mungkin nanti dengan vaksinasi lebih luas bukan hanya masyarakat Indonesia tapi global, baru akan terjadi penurunan kasus," jelas Nadia dalam diskusi daring, Jumat (22/10/2021).

Vial vaksin COVID-19 jenis Sinovac yang digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi di Gunungkidul
Vial vaksin COVID-19 jenis Sinovac yang digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi di Gunungkidul (TRIBUNJOGJA.COM/ Alexander Ermando)

Indonesia sendiri sudah mengalami dua gelombang puncak corona. Pertama pada Januari 2021, yang kedua Juni-Juli 2021.

Nadia menjelaskan gelombang ketiga kemungkinan besar akan terjadi pada akhir tahun 2021 atau awal 2022. Contohnya sudah terjadi di sejumlah negara, seperti di China, Inggris, hingga Amerika Serikat.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved