Breaking News:

Peneliti Minta Burung Hantu di Sepadan Sungai Pusur Klaten Dijaga untuk Produktivitas Pertanian

Keberadaan burung hantu yang memiliki nama latin tyto javanica disebut-sebut sangat penting bagi pengendalian hama tikus untuk menjaga produktivitas

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Almurfi Syofyan
Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya (empat kiri) foto bersama dengan sejumlah Camat dan para peneliti burung hantu di Sungai Pusur Klaten, Selasa (19/10/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Keberadaan burung hantu yang memiliki nama latin tyto javanica disebut-sebut sangat penting bagi pengendalian hama tikus untuk menjaga produktivitas hasil pertanian warga di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Hal itu terungkap saat digelarnya diskusi mengenai upaya perlindungan habitat burung hantu untuk mendukung produktivitas pertanian di kawasan sepadan sungai pusur, Selasa (19/10/2021).

"Serangan hama tikus pada tanaman padi dapat dikendalikan jika di sekitar area persawahan banyak  terdapat burung hantu," ujar Peneliti dari Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta, Prasanto Bimantyo saat memaparkan penelitiannya di Ruang Rapat Gedung C Setda Klaten.

Baca juga: Kota Magelang Berstatus Level 2, Taman Kyai Langgeng Siap Beroperasi

Menurut dia, penelitian terkait habitat burung hantu itu sudah dilakukan oleh pihaknya sejak dua bulan terakhir. Penelitian dilakukan karena Kabupaten Klaten merupakan sentra ketahanan pangan nasional dan sudah lama terkenal dengan padi dan beras berkualitas tinggi.

"Jadi Klaten ini sangat vital bagi ketahanan pangan nasional, maka dari itu kualitas dan kuantitas padi asal Klaten harus kita jaga semuanya untuk memenuhi keinginan swasembada beras," urainya.

Untuk menjaga kualitas dan kuantitas itu, lanjut Prasanto, salah satunya yakni mencegah munculnya hama tikus yang kerap merugikan petani.

Sebagaimana diketahui serangan hama tikus kerap terjadi secara sporadis dan sulit untuk dikendalikan serta menimbulkan efek menurunnya jumlah produksi tanaman padi.

"Percuma kita berbicara kualitas kalau kuantitasnya tidak terpenuhi. Karena targetnya adalah kuantitas. Salah satu predator atau musuh utama tikus adalah burung hantu atau tyto javanica  ini," ucap dia.

Menurutnya, burung hantu sudah lama dikenal oleh petani sebagai musuhnya tikus, namun saat ini keberadaan burung hantu tersebut sangat mengkhawatirkan sehingga habitatnya perlu untuk dilindungi.

Hewan nocturnal itu, lanjut Prasanto dikenal sebagai hewan penyendiri dan memiliki wilayah sendiri. Satu ekor burung hantu mampu melindungi tanaman padi hingga seluas 5 hektare  dari serangan tikus.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved