Breaking News:

Cerita Karyawan di Sleman Terjerat Pinjol dan Diteror, Pinjam Rp 7 Juta Membengkak Rp 90 Juta

Tak pernah terbayangkan, 2021 menjadi tahun yang sangat berat, pelik, rumit, bahkan nyaris membuat gila bagi Intan Pratiwi, karyawan swasta,

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
ISTIMEWA/TRIBUN JOGJA
Grafis Lika Liku Pinjol. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tak pernah terbayangkan, 2021 menjadi tahun yang sangat berat, pelik, rumit, bahkan nyaris membuat gila bagi Intan Pratiwi, karyawan swasta, warga Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Semua kerumitan hidup itu, penyebabnya satu: karena jeratan pinjaman online (Pinjol) ilegal. 

Ceritanya bermula pada bulan Februari silam. Perempuan 29 tahun itu memiliki kebutuhan mendesak, sedang membutuhkan uang cepat sekira Rp 13 juta. Sudah mencoba mencari pinjaman namun tidak berhasil. Di tengah kekalutan, tiba-tiba muncul iklan pinjaman online (Pinjol) saat dirinya mendengarkan lagu di YouTube.

Di iklan yang muncul itu, aplikasi tersebut terlihat sangat meyakinkan. Sebab, mencantumkan logo OJK (Otoritas Jasa Keuangan). 

"Saya install aplikasi itu lewat play store. Lalu, memasukkan data diri. Termasuk foto dan foto kartu tanda penduduk (KTP)," kata Intan, berbincang dengan Tribun Jogja, Sabtu (16/10/2021). 

Baca juga: Warga yang Terpapar Covid-19 dalam Klaster Tilik di Bantul Bertambah 2 Orang

Selain data diri, aplikasi tersebut ternyata juga meminta izin untuk mengakses kontak dan data panggilan di handphone. Dari situlah petaka bermula. Ketika semua data sudah masuk, aplikasi tersebut lalu menawarkan pinjaman online sekali "klik" dengan limit maksimal Rp 9 juta. Intan yang berada dalam tekanan, tanpa pikir panjang langsung mengajukan pinjaman. 

"Nggak sampai 10 menit, duit langsung masuk ke rekening Rp 7 juta," ungkap dia. 

Saat itu, Intan merasa pinjaman online yang dilakukan lewat aplikasi itu masih aman. Dalam bayangan, Ia mampu mengembalikan uang tersebut. Sebab, sepengatahuan dirinya tenor atau masa jatuh tempo pinjaman tersebut 91 hari. Ternyata salah. Saat waktu senggang, dia kembali membuka aplikasi tersebut dan ternyata jatuh temponya hanya 7 hari. Parahnya lagi, dalam waktu sepekan itu, Ia harus mengembalikan uang Rp 15 juta. 

Usut punya usut, Intan terjebak dalam aplikasi aggregator. Jadi, uang nominal Rp 7 juta yang ditranfer ke rekening Intan berasal dari sejumlah aplikasi. Hal itu diketahui melalui mutasi rekening.

Supaya lebih mudah, sebut saja aplikasi tersebut, A, B, C, D dan E. Masing-masing aplikasi mentransfer uang ke rekening Intan dengan nominal yang bermacam-macam. 

Semisal aplikasi A mentransfer Rp 1,2 juta. Namun yang tertera diaplikasi, Intan dikenakan pinjaman Rp 2 juta. Bunganya Rp 800 ribu. Begitu juga di aplikasi kedua dan seterusnya. Tagihan di tiap aplikasi berkisar antara Rp 2 - 3 juta. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved