Wisata Bantul

WISATA UNIK BANTUL : Lihat Koleksi Wayang Langka di Museum Wayang Beber Sekartaji

WISATA UNIK BANTUL : Lihat Koleksi Wayang Langka di Museum Wayang Beber Sekartaji

Tayang:
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Yudha Kristiawan
IST
Indra Suroinggeno tengah menyelesaikan maha karya wayang beber dengan epos Panji Kuda Semirang pada sebuah kain kanvas sepanjang 10 meter di Museum Sekartaji. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pegiat wisata edukatif di Yogyakarta terus berupaya menambah destinasi wisata edukatif sebagai upaya literasi sejarah peninggalan nenek moyang yang kaya akan ilmu pengetahuan. Museum Wayang Beber Sekartaji Yogyakarta salah satunya.

Destinasi wisata edukatif yang berada di Gang Pancasila, Kanutan, Sumbermulyo, Bambang Lipuro, Bantul Yogyakarta ini bisa menjadi objek wisata yang tepat bagi mereka penyuka sejarah dan budaya. 

Museum ini berada di sebuah kampung yang asri dengan atmosfer khas desa yang masih kental dengan tegur sapa yang ramah.

Museum yang dibuka untuk umum ini menempati sebuah bangunan sederhana, layaknya sebuah tempat tinggal.

Berkunjung ke museum ini pengunjung dibawa ke era di mana sebuah rumah zaman dulu masih kental dengan kegiatan seni dan budaya.

Sesampainya di depan gapura museum,  para pengunjung langsung disuguhi pemandangan aktivitas pembuatan kertas secara tradisional.

Indra Setiawan, sosok di balik berdirinya museum ini langsung memberi sambutan hangat pada para pengunjung.

Diiringi suara gamelan yang dimainkan langsung, Indra menjelaskan aktivitas pembuatan kertas secara tradisional tersebut.

Pembuatan kertas seperti ini memang sebuah pemandangan cukup langka. Serupa seorang empu ketika membuat sebuah bilah keris, membutuhkan kesabaran, ketelitian dan ketekunan ekstra agar hasil kertas yang didapat berkualitas.

"Ini namanya kertas nusantara atau dluwang yang terbuat dari bahan pohon glugu. Dulu para resi menggunakannya sebagai bahan membuat pakaian, media tulis hingga karya seni, salah satunya wayang beber," terang Indra sembari menunjukkan contoh kertas yang sudah jadi.

Setelah melihat pembuatan kertas, Indra pun mengajak pengunjung menyaksikan pertunjukkan singkat wayang beber yang dimainkan di serambi museum. Seorang dalang berikut perangkat gamelan nampak asik memainkan sebuah lakon berjudul Pancasila.

Lakon ini adalah pengembangan dan modifikasi cerita yang bersifat kontemporer, bertujuan mengenalkan keberadaan wayang beber kepada masyarakat luas dengan cerita kekinian yang di dalamnya terselip pesan moral.

"Kami terus mengembangkan cerita kekinian yang diharapkan bisa menarik minat generasi muda saat ini terhadap keberadaan wayang beber. Ini upaya literasi wayang beber kepada generasi milenial. Cerita epiknya tetap kita mainkan, karena bagian dari sejarah perjalanan wayang beber itu sendiri hingga saat ini," terang Indra.

Di museum wayang beber Sekartaji ini pengunjung benar benar diajak merasakan kehidupan sehari hari di sebuah kampung ala Yogya.

Sebelum melihat koleksi yang ada di museum ini, para pengunjung dipersilahkan mencicipi sajian kuliner lokal, seperti wedang jahe, wedang uwuh dan ubi ubian.

Ada dua buah ruangan yang berisi benda benda koleksi museum ini. Pertama ruangan yang menyajikan informasi sejarah wayang beber berikut sebuah perangkat gamelan yang digunakan untuk mengiringi pementasan.

Sementara, ruangan ke dua yang letaknya bersebelahan memajang beberapa koleksi wayang beber berbagai lakon dan benda benda temuan yang diyakini memiliki sangkut paut perjalanan sejarah wayang beber di negeri ini.

Indra menuturkan, wayang beber sejatinya merupakan nenek moyang wayang kulit yang ada saat ini.

Hanya saja keberadaan wayang beber kalah populer lantaran masih sedikit literatur yang memuat sejarah wayang beber. Selain itu upaya untuk mengenalkan pada masyarakat juga belum masif.

"Keberadaan museum ini tujuan utamanya adalah mengenalkan keberadaan wayang beber. Ketika sudah mengenal, diharapkan timbul minat mempelajari lebih dalam dan lebih jauh lagi turut melestarikan dengan cara ikut memainkan wayang beber," ungkap Indra.

Lanjut Indra, dalam cerita wayang beber ini sudah ada cerita cerita yang menampilkan kekuatan atau visual serupa ala film laga superhero. Ini menandakan bahwa, jauh sebelum ada karakter superhero dari industri perfilman barat, babat atau lakon dalam wayang beber sudah lebih dulu hadir.

"Salah satunya ketika dalam sebuah lakon dikisahkan pertarungan meditasi atau kekuatan non fisik. Selain itu karakter unik musang ekor 9 yang saat ini banyak ditemui karakter mirip mirip di film superhero kekinian. Dalam wayang beber, ternyata sudah ada dan ini yang belum digali dengan baik, ini kekayaan pustaka nenek moyang yang sangat berharga," imbuh Indra.

Baca juga: WISATA UNIK SLEMAN : Air Terjun Berundak Grojogan Watu Purbo, Sajikan Wisata Edukasi Mencintai Alam

Indra Suroinggeno tengah menyelesaikan maha karya wayang beber dengan epos Panji Kuda Semirang pada sebuah kain kanvas sepanjang 10 meter di Musium Sekartaji.
Indra Suroinggeno tengah menyelesaikan maha karya wayang beber dengan epos Panji Kuda Semirang pada sebuah kain kanvas sepanjang 10 meter di Musium Sekartaji. (IST)

* Menawarkan Wisata Sejarah Religi

Berkunjung ke museum wayang beber Sekartaji, bila menghendaki, pengunjung bakal diajak berkeliling ke beberapa destinasi wisata terdekat yang berbasis religi. 

Letak museum ini memang berada di area peninggalan bersejarah yang dulunya dibangun kental dengan perjalanan agama samawi di tanah Jawa.

Tak jauh dari museum wayang beber Sekartaji setidaknya ada tiga buah peninggalan bersejarah, yakni situs Selo Gilang, petilasan Ki Ageng Mangir dan Gereja Ganjuran.

Pengunjung bila menghendaki berkunjung ke salah satu peninggalan bersejarah tersebut akan diajak berkeliling menggunakan sepeda.

"Pengunjung kita ajak bersepeda keliling rute  kampung ke tempat tempat bersejarah sekitar sini. Salah satunya ada situs Selo Gilang peninggalan bersejarah zaman Mataram Islam," terang Indra.

Asiknya lagi setelah puas bersepeda ke tempat tempat bersejarah, bila menghendaki, pengunjung juga bisa mencicipi kuliner khas pedesaan yang dimasak langsung oleh warga setempat. 

Untuk pementasan wayang beber, memang belum setiap hari dipentaskan. Terutama bagi pengunjung dengan jumlah rombongan besar, bisa meminta pementasan wayang beber digelar dengan menginformasikan terlebih dahulu jadwal kedatangan.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga pukul 16.00 Wib. Hanya saja bila pengunjung menghendaki kunjungan di luar jam tersebut bisa dikondisikan dengan menghubungi pengelola terlebih dahulu.

Ke museum ini dari jantung Kota Yogyakarta bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dan memakan waktu sekitar 45  menit dengan kondisi lalu lintas lancar.

Agar mudah sampai lokasi, pengunjung bisa memanfaatkan aplikasi peta digital untuk memandu perjalan menuju rute ke museum ini.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved