Yogyakarta

Hasil Penelitian ICR : 46 Persen Perempuan di Indonesia Anggap Korupsi 'Budaya Bangsa' 

Jawaban para responden itu sedikit banyak dilatarbelakangi oleh maraknya aktivitas korupsi yang terjadi lingkungan sekitarnya.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Para personel ICR saat memaparkan hasil risetnya di Yogyakarta, Selasa (28/9/2021) sore lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM - Fakta mengejutkan dipaparkan Indonesia Corruption Research (ICR) terkait hasil penelitian terbarunya.

Bagaimana tidak, dari 1.171 responden perempuan di seluruh Indonesia, 46 persen menganggap korupsi sebagai budaya, dan terbilang lumrah terjadi di tanah air. 

ICR sendiri merupakan tim kolaborasi akademisi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Yogyakarta, bekerjasama dengan Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University Bandung.

Mereka melangsungkan riset bertajuk 'Indeks Persepsi Perempuan Terhadap Kasus Korupsi di Indonesia' (survei di 34 provinsi). 

Baca juga: Kala Solidaritas Masyarakat Sipil Dirikan Kantor Darurat Pemberantasan Korupsi di Depan Kantor KPK

Koordinator ICR, Astri Wulandari mengatakan, ketika para responden disodori pernyataan mengenai tindakan korupsi sebagai hal biasa dalam kehidupan sosial bermasyarakat, hampir separuhnya mengatakan setuju. 

"Jadi, mereka menganggap korupsi itu lumrah. Bahkan, menilainya sudah jadi budaya bangsa. Memang, ini sangat mengkhawatirkan, ya," katanya dalam jumpa pers di Yogyakarta, Selasa (28/9/2021) sore silam. 

Astri menyampaikan, jawaban para responden itu, sedikit banyak dilatarbelakangi oleh maraknya aktivitas korupsi yang terjadi lingkungan sekitarnya.

Ia tidak menampik, dewasa ini, masih banyak pungutan liar, suap, hingga grativikasi di pemerintahan tingkat bawah. 

"Sehingga, mereka menganggapnya lumrah, karena itu seringkali dijumpai di lingkungan sekitarnya. Di beberapa daerah masih banyak loh itu, e-KTP dipersulit, dan harus ngasih suap biar cepat diurus," terang pengajar di Ilmu Komunikasi dan Multimedia UMBY itu. 

Sementara Koordinator Riset ICR, dari Telkom University Bandung, Catur Nugroho, mengungkapkan, dalam riset ini, ada 5,6 persen responden pernah menerima gratifikasi dan tak melaporkan pada aparat berwenang.

Baca juga: Kader Banyak Tertangkap Korupsi, Pakar Hukum UIN Sunan Kalijaga: Parpol Gagal Edukasi Antirasuah

Lalu, terdapat 2,7 persen responden yang  pernah menerima suap, dan 4,9 persen pernah melakukan pungutan liar. 

"Temuan ini memberikan gambaran, bahwa masih cukup banyak perempuan di Indonesia yang melakukan tindakan, serta perilaku koruptif," ungkap Catur. 

Dijelaskannya, penelitian ini mengambil 1.171 responden perempuan yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia.

Usia antara 17 tahun hingga 45 tahun, kemudian dari berbagai latar belakang profesi, mulai pelajar, karyawan swasta, maupun Aparatur Sipil Negara (ASN). 

"Metode survei dilakukan dengan membagikan kuesioner secara daring, sehingga didapatkan data dari perempuan di 34 provinsi secara proporsional sesuai jumlah penduduk perempuan di setiap provinsi," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved