Breaking News:

Pandemi Bikin Anak Stres dan Berakibat Learning Loss, 40 Persen Sekolah Sudah PTM

Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan saat ini sudah ada 40 persen sekolah sudah gelar PTM.

Editor: Agus Wahyu
Tribun Jogja/ Yuwantoro Winduajie
Mendikbud-Ristek, Nadiem Makarim, saat ditemui di kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (14/9/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengatakan saat ini sudah ada 40 persen sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Namun ia menilai jumlah itu masih sangat sedikit. Karena itu ia mendorong semua sekolah di daerah yang dinyatakan aman Covid-19 bisa buka sekolah untuk PTM Terbatas.

”Alhamdulillah sudah 40 persen sekolah mulai tatap muka, tapi itu masih angka yang sangat kecil,” kata Nadiem dalam diskusi virtual, Selasa (28/9).

Berdasarkan data Kemendikbudristek, Minggu (26/9), terdapat 537.302 satuan pendidikan jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), SD, SMP, SMA/SMK, madrasah dan pendidikan non-formal. Sebanyak 72,21 persen atau 156.599 satuan pendidikan masih belajar dari rumah. Sedangkan PTM terbatas sudah dilaksanakan di 60.257 satuan pendidikan (27,79 persen), serta yang belum menjawab 59,64 persen atau 320.446 satuan pendidikan.

Nadiem berpandangan anak-anak sebaiknya mulai melakukan belajar tatap muka agar tidak semakin tertinggal. Dia menyebut anak-anak Indonesia sudah sangat terancam ketinggalan pelajaran dan kesehatan mental karena selama 1,5 tahun terakhir belajar online.

”Jadinya kalau kita enggak mau semakin ketinggalan lagi, ya anak-anak harus selalu tatap muka dengan protokol kesehatan yang teraman, yang bisa kita lakukan di masing-masing daerah,” tuturnya.

Menurut Nadiem pandemi Covid-19 telah memperbesar ketimpangan di dunia pendidikan. “Sebelum pandemi pun kita sudah sebenarnya ketinggalan dari angka PISA (Programme for International Student Assessment) kita dibandingkan dengan negara-negara lain,” ucapnya.

Ketertinggalan tersebut menurutnya semakin terjadi di masa pandemi saat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. ”Pada saat pandemi kita melihat ini kondisi memperburuk terutama untuk daerah-daerah di mana tingkat sosial ekonomi itu masih rendah,” ujar dia.

Pada kesempatan yang sama Nadiem mengungkapkan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi tidak hanya berdampak pada ketertinggalan atau learning loss. Ia mengatakan, PJJ jangka panjang saat pandemi dapat menyebabkan anak merasa kesepian dan trauma secara emosional.

"Banyak anak-anak kita yang kesepian, banyak anak-anak kita yang secara emosional trauma dengan situasi ini," kata Nadiem. "Orang tua juga stres di rumah dan menyebabkan berbagai macam isu dan tension antara orang tua dan anak-anaknya," imbuhnya.

Rasa kesepian dan traumatik pada anak menjadi salah satu persoalan psikologis yang disoroti Nadiem. Ia mengaku mengkhawatirkan masalah tersebut. Sebab, kondisi psikologis itu merupakan bagian kemampuan anak-anak untuk bersikap terbuka terhadap pembelajaran. Keadaan emosional dan psikologis, kata Nadiem, memang dua hal yang berbeda. Namun demikian, dalam diri anak-anak dua hal itu saling berkaitan. "Jadi ini merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan," tuturnya. (tribun network/fah/dod)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved