Breaking News:

Tetap Berjualan Meski Sepi, Pedagang Cendera Mata di Borobudur Berharap dari Wisatawan yang Kecele

Suasana di halaman depan gerbang utama wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, tampak ramai oleh pedagang cenderamata yang sibuk menjajakan

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Nanda Sagita Ginting
Para pedagang di kawasan Borobudur tetap berjualan meski sepi pembeli, Kamis (09/09/2021) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Suasana di halaman depan gerbang utama wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, tampak ramai oleh pedagang cendera mata yang sibuk menjajakan dagangannya.

Padahal, kawasan wisata candi Borobudur belum menerima kunjungan wisata selama pemberlakuan masa PPKM.

Ternyata para pedagang, berharap dagangannya dibeli oleh pengunjung yang kecele atau tidak mengetahui informasi tutupnya operasional wisata Candi Borobudur.

Baca juga: Terhimpit Kebutuhan Ekonomi, Seorang Pria di Kota Yogyakarta Nekat Mencuri Uang di Kotak Amal Masjid

Satu di antaranya Rukmiyati (56), pedagang cendera mata yang mengaku terpaksa tetap berjualan karena tidak ada pilihan lain.

"Kalau gak seperti ini (berjualan), kebutuhan sehari-hari mana bisa tercukupi. Mau mencari kerjaan yang baru  dengan kondisi pandemi, juga susah," terangnya kepada Tribun Jogja, pada Kamis (09/09/2021).

Ia mengatakan, hasil pendapatan selama tutupnya wisata Candi Borobudur sangat minim.

Dalam sehari, paling banyak ia hanya bisa membawa uang sebesar Rp 10 ribu.

"Sekarang, pendapatan tidak menentu. Semenjak tutup (Candi Borobudur) paling banyak itu, bisa bawa pulang uang Rp 10 ribu. Malahan lebih sering pulang hanya tangan kosong,"ucapnya.

Hal serupa pun dialami, Erwin  (43) pedagang  kaus di Candi Borobudur. Ia mengaku, selama penutupan wisata dirinya tidak memiliki pendapatan.

Baca juga: BREAKING NEWS: Lurah Non-aktif DPO Kasus Dugaan Korupsi JJLS Serahkan Diri ke Polres Gunungkidul

"Biasanya, saya jualan di kios pada bagian dalam kawasan Candi Borobudur. Namun, selama ditutup pembelinya tidak ada sama sekali. Akhirnya, saya pun jualan eceran di  luar pagar ini. Berharap adalah satu dua pembeli yang datang," terangnya.

Ia mengaku, tak sedikit dari pedagang di kawasan Borobudur mengalami kerugian bahkan gulung tikar. Akibat pandemi yang berkepanjangan disertai tutupnya destinasi wisata.

"Banyak dari kami (pedagang) sudah gulung tikar karena tak mampu bertahan di kondisi seperti ini. Tentu, harapannya ada solusi terbaik dari pemerintah. Agar, kami bisa mencari nafkah seperti dulu lagi," urainya. (Ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved