Breaking News:

AFGHANISTAN: Pengakuan Mantan Presiden Ashraf Ghani yang Pilih Kabur Saat Taliban Masuk Kabul

Mantan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyesal karena tidak dapat mengakhiri pemerintahannya dengan cara yang berbeda untuk rakyatnya.

Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
AFP / FACEBOOK
Mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani 

TRIBUNJOGJA.COM - Mantan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani meminta maaf kepada rakyat Afghanistan setelah melarikan diri untuk berlindung di Uni Emirat Arab.

"Meninggalkan Kabul adalah keputusan tersulit dalam hidup saya," katanya, dikutip Tribun Jogja dari BBC News.

Dia menyatakan telah menyesal karena tidak dapat mengakhiri pemerintahannya dengan cara yang berbeda untuk rakyatnya.

Seperti diketahui, Ghani tiba-tiba meninggalkan Afghanistan saat gerilyawan Taliban menuju ke ibu kota pada 15 Agustus silam.

Dia mengatakan dia tidak bermaksud untuk meninggalkan rakyatnya tetapi mengklaim bahwa hanya itulah satu-satunya cara yang bisa ditempuhnya.

Seorang pejuang Taliban berjalan di dekat spanduk yang dirobohkan dari mendiang pemimpin Mujahidin Afghanistan Ahmed Shah Massoud (kanan) dan poster mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang melarikan diri dari negara itu selama pendudukan militer Taliban di Aghanistan, di bandara di Kabul pada 31 Agustus 2021, setelah AS menarik semua pasukannya keluar dari negara itu untuk mengakhiri perang brutal selama 20 tahun -- perang yang dimulai dan diakhiri dengan kekuasaan kelompok Islam garis keras.
Seorang pejuang Taliban berjalan di dekat spanduk yang dirobohkan dari mendiang pemimpin Mujahidin Afghanistan Ahmed Shah Massoud (kanan) dan poster mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang melarikan diri dari negara itu selama pendudukan militer Taliban di Aghanistan, di bandara di Kabul pada 31 Agustus 2021, setelah AS menarik semua pasukannya keluar dari negara itu untuk mengakhiri perang brutal selama 20 tahun -- perang yang dimulai dan diakhiri dengan kekuasaan kelompok Islam garis keras. (WAKIL KOHSAR / AFP)

Dia juga kembali membantah tuduhan tidak berdasar bahwa dia telah melakukan perjalanan ke UEA dengan sekitar $ 169 juta (£ 123 juta).

Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan di Twitter pada hari Rabu, Ghani mengatakan dia tidak punya pilihan selain meninggalkan negara itu untuk menghindari kekerasan yang meluas.

"Saya pergi atas desakan keamanan istana, yang menyarankan saya untuk tetap mengambil risiko memicu pertempuran jalanan yang sama yang dialami kota selama perang saudara tahun 1990-an," tulisnya.

Ia menambahkan bahwa dia melakukannya untuk menyelamatkan Kabul dan enam juta warganya.

Dia mengatakan dia telah mengabdikan 20 tahun untuk membantu Afghanistan menjadi negara yang demokratis, makmur dan berdaulat.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved