Breaking News:

Pendidikan

Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Penulisan Riset Disertasi Terbaik

Maksimilianus Jemali, meraih penghargaan sebagai penulis proposal disertasi terbaik dalam ajang kompetisi nasional.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Mahasiswa UGM, Maksimilianus Jemali meraih penghargaan penulisan riset disertasi terbaik 

TRIBUNJOGJA.COM - Mahasiswa prodi S3 Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) UGM, Maksimilianus Jemali, meraih penghargaan sebagai penulis proposal disertasi terbaik dalam ajang kompetisi nasional dalam penulisan tesis dan disertasi yang diselenggarakan oleh lembaga Nusantara Institute.

Dalam kompetisi yang bertajuk Nusantara Wiriting Grant, riset disertasi Maksimilianus masuk dalam daftar 10 pemenang proposal disertasi terbaik menyisihkan 130-an proposal yang berasal dari berbagai kampus di Indonesia dan mancanegara yang diumumkan pada 26 Agustus lalu.

Dihubungi pada hari Selasa (31/8/2021), Maksimilianus mengaku tidak menyangka jika proposal disertasinya mendapat penghargaan terbaik untuk riset disertasi.

Risetnya yang berjudul Hambor sebagai Narasi Kecil dalam Mengelola Konflik dan Situasi Damai di Flores, Manggarai, NTT merupakan riset soal tradisi yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat di kabupaten Manggarai, Flores, NTT, untuk menyelesaikan  berbagai macam konflik yang terjadi di dalam kampong, baik di tingkat perorangan, keluarga, maupun antar suku.

Baca juga: UGM Terima Bantuan Mesin PCR dan Alat Kesehatan Senilai Rp 2,3 Miliar

“Hambor dalam bahasa Manggarai yang berarti ‘damai atau harmoni’. Tradisi ini sudah ada sejak dahulu dan diwariskan turun-temurun. Dalam bahasa Manggarainya disebut, “mbate dise ame, serong dise empo, pede dise ende”,” katanya.

Putra asli Manggarai ini menuturkan Hambor semacam simpul perdamaian yang menciptakan integrasi keharmonisan dalam alam semesta.

Orang Manggarai melihat semesta ini seperti jaring laba-laba raksasa.

 Menurutnya setiap jaring atau elemen mesti berusaha untuk menjaga harmoninya dengan jaring yang lain.

Kalau satu jaring putus, atau diabaikan oleh jaring yang lain, maka akan terjadi disharmoni atau disintegrasi. 

“Pemahaman ini menjadikan Hambor sebagai tradisi yang memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam keseharian masyarakat Manggarai karena diyakini sebagai entitas, tradisi yang mengharmoniskan manusia dengan semesta,” papar pria kelahiran Tuke, Ruteng Manggarai, Flores, NTT,  39 tahun lalu ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved