Breaking News:

Pakar Virologi UGM : Pemberian Vaksin Booster untuk Masyarakat Umum Belum Urgent

Pakar Virologi UGM : Pemberian Vaksin Booster untuk Masyarakat Umum Belum Urgent

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
dok.istimewa
Ilustrasi penyuntikan vaksin 

TRIBUNJOGJA.COM,  YOGYA - Pakar virologi FKKMK UGM, dr. Mohamad Saifudin Hakim, MSc., PhD menyebut penyuntikan vaksin-Covid-19 dosis ketiga atau vaksin booster belum perlu diberikan kepada masyarakat umum.

Menurutnya, pemberian vaksin Covid-19 dosis ketiga bisa diberikan secara terbatas bagi tenaga kesehatan (nakes) karena memang memiliki resiko besar tertular virus corona.

Nakes merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

“Kalau untuk masyarakat umum, belum ada urgensi untuk pemberian vaksin dosis ketiga. Berbeda dengan nakes yang memang diperlukan vaksin booster karena dari sisi jumlah yang sedikit dan mereka adalah pejuang yang berada di garda depan penanganan Covid-19 sehingga berisiko besar terpapar Covid-19 ,” jelasnya seperti yang dikutip Tribunjogja.com dari ugm.ac.id, Jumat (3/9/2021).

Selain belum urgent diberikan kepada masyarakat umum, pemberian vaksin booster menurut dr. Mohamad Saifudin Hakim juga belum direkomendasikan oleh WHO.

Saat ini yang paling penting menurut dr. Mohamad Saifudin Hakim adalah memperluas cakupan vaksinasi secara nasional.

Sebab, sejauh ini belum semua masyarakat mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 baik dosis pertama maupun dosis kedua.

“Saat ini masyarakat umum yang sudah mendapatkan vaksin hingga dosis kedua masih sedikit, baru sekitar 18%. Jadi, sebaiknya mengejar cakupan vaksin dulu bagi mereka yang belum divaksin, terutama kelompok lansia yang berisiko tinggi,” paparnya.

Baca juga: Fakultas Geografi UGM Gelar Upacara Dies Natalis ke-58

Dr. Mohamad Saifudin Hakim menambahkan, pemberian vaksin booster dilihat dari sisi imunologi memang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Vaksin booster yang diberikan akan melatih kembali sel-sel memori penghasil antibodi tubuh yang dihasilkan dari dua dosis vaksin sebelumnya.

Daya ikat antibodi juga menjadi lebih baik terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

“Sejumlah studi awal menunjukkan bahwa dengan pemberian vaksin booster atau dosis ketiga, baik dengan merk (platform) vaksin yang sama atau berbeda, mampu memperkuat imunitas yang diperoleh dari dua dosis vaksin sebelumnya,” urainya.

Kendati begitu, ia menyampaikan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pemberian vaksin booster. Pertama, terkait penurunan level imunitas. Hingga kini belum jelas bagaimana imunitas setelah pemberian vaksin sebelumnya bertahan, apakah terjadi penurunan atau tidak. Jika benar terjadi penurunan maka pemberian booster bisa dipertimbangkan.

Kedua, efektivitas vaksin. Data yang ada saat ini belum cukup untuk memastikan apakah terdapat penurunan efektivitas vaksin untuk mencegah gejala berat Covid-19 pada sekian bulan setelah dosis kedua dan angka kejadian Covid-19 pada mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dua dosis.

"Lalu, bagaimana efektivitas vaksin terhadap varian corona baru yang menjadi perhatian global (VoC)? Jika ada data penurunan efektivitas vaksin dua dosis, pemberian booster bisa dipertimbangkan,"tuturnya.

Ketiga, pasokan vaksin secara global dan nasional. Kebijakan pemberian vaksin booster perlu mempertimbangkan ketersediaan vaksin secara global maupun nasional di suatu negara.

“Kalau negara maju mengejar pemberian vaksin dosis 3, sementara negara lain saja masih belum mendapatkan dosis 1, ini bisa memperparah prinsip kesetaraan nasional dan global dalam akses terhadap vaksin selama pandemi,” tegasnya. (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved