Breaking News:

Melihat Konflik di Afghanistan dan Memetik Pelajaran dari Konflik Peradaban

Jika menilik pada pendekatan kesejarahan, Afghanistan sendiri tidak banyak suku.

Editor: ribut raharjo
Mark ANDRIES / US MARINE CORPS / AFP
Foto milik Korps Marinir AS yang mengabadikan pengungsi menunggu penerbangan berikutnya di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 19 Agustus 2021. 

Oleh: Satrio Toto Sembodo

TRIBUNJOGJA.COM - Sebagai seorang praktisi dan akademisi yang dilatarbelakangi kepada pengalaman panjang selama hampir 28 tahun menjadi bagian dari berbagai aktivitas pengelolaan konflik di berbagai level di banyak tempat (dari Aceh sampai dengan Poso, bahkan Bosnia Herzegovina, Afghanistan)
menilai betapa mahalnya dan buruk harga suatu konflik kekuasaan, konflik peradaban.

Mahal dan buruknya konflik peradaban tidak saja dimaknai sebagai suatu kalkulasi kerusakan material dan hilangnya nyawa manusia tetapi mahal dan buruknya konflik seperti Afghanistan pada realitas sejarahnya menunjukkan lahirnya suatu model siklus konflik yang bersifat berulang dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikut sebagai suatu konflik yang hadir berseri-seri (series conflict) dengan tema sama yang merugikan upaya pembangunan peradaban .

Konflik seperti ini umumnya melahirkan suatu relasi sosial masyarakat yang rapuh (fragile society) atau dengan kata lain “Mix But Not Combine” dimana mitos dan memori konflik menjadi bagian dari sikap dan perilaku masyarakat yang selalu terbawa dalam alam sadar dan bawah sadarnya dan sewaktu-waktu dapat menjadi pemicu konflik konflik baru dalam berbagai skala dan kepentingan.

Jika menilik pada pendekatan kesejarahan, Afghanistan sendiri tidak banyak suku (kurang lebih 7-9 suku bangsa) yang mendiami wilayah geografisnya yang tidak lebih dari 600-an ribu hektare.

Dengan posisinya yang berada di antara Asia Tengah dan Asia Selatan, menjadikan Afghanistan menjadi salah satu jalur sutra (economy road) yang menghubungkan negara-negara yang mengelilinginya.

Manusia sudah tinggal di Afghanistan sejak Zaman Batu Tua (Paleolitik) Tengah. Lokasi strategis negara tersebut di sisi sepanjang jalur sutra telah menghubungkan Afghanistan dengan budaya Timur Tengah dan Asia bagian lain.

Sepanjang abad, Afghanistan telah menjadi tempat tinggal untuk banyak orang dan telah menjadi objek dari banyak kampanye militer, terutama dari Aleksander Agung, Maurya, Arab, Mongolia, Inggris, Rusia dan di era modern oleh dunia barat.

Afghanistan juga menjadi tempat di mana dinasti Kushan, Hun Putih, Samanid, Safarid, Ghaznavid, Gurid, Khilji, Mughal, Hotaki, Durrani dan lain-lain telah bangkit dan membentuk kerajaan besar.

Sejarah politik negara Afghanistan modern mulai dengan penguasaan Kekaisaran Hotaki dan Durrani di Abad ke-18. Pada akhir Abad ke-19, Afghanistan menjadi negara penyangga di antara Kekaisaran Rusia dan Kemaharajaan Britania.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved