Breaking News:

Asprov PSSI DIY Sudah Siap Gelar Kompetisi Liga 3, Namun Masih Tunggu Keputusan PSSI Pusat

Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DI Yogyakarta siap menyelenggarakan kompetisi Liga 3, hanya saaj saat ini pihaknya masih menunggu keputusan dari PSSI

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
freepik
Ilustrasi bola 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DI Yogyakarta siap menyelenggarakan kompetisi Liga 3, hanya saat ini pihaknya masih menunggu keputusan dari PSSI pusat mengenai keputusannya.

Ketua Umum Asprov PSSI DIY Ahmad Syauqi Soeratno mengaku pihaknya sudah siap jika sewaktu-waktu menyelenggarakan kompetisi, jika sudah, Asprov akan kembali memutar beberapa kompetisi lainnya semisal Piala Soeratin dan Piala Pertiwi.

"Kita memang sudah siap, tapi kita juga masih tunggu izin atau mandat dari federasi pusat juga Satgas Covid-19 DIY, perkiraan kita sekitar bulan Oktober. Tapi sampai sekarang, pusat belum mengeluarkan skemanya, semisal dari DIY yang lolos berapa, karena memang ada pertandingan minimal yang harus dilakoni oleh tim biar bisa lolos," kata Syauqi.

Baca juga: Kesulitan Air Bersih, 3 Desa di Kemalang Klaten Paling Terdampak, BPBD Distribusikan 441 Tangki Air

Sebelumnya, Asprov PSSI DIY baru saja melaksanakan kongres tahunan 2021 kemarin Sabtu (28/8/2021), di sana salah satu hasilnya adalah mengesahkan enam klub baru untuk mengikuti kompetisi Liga 3 regional DIY.

Sementara itu, pelaksanaan kompetisi Liga 3 di masa pandemi ini cukup sulit dilakukan, mengingat menerapkan protokol kesehatan di liga amatir pasti akan lebih sulit ketimbang kompetisi profesional seperti Liga 1 atau 2.

Di sana para pemain dimungkinkan tidak akan menjalani sistem bubble, karena selain kondisi klub Liga 3 tidak seperti klub Liga 1 dan 2, para pemain juga biasanya memiliki kesibukan lain di luar sepak bola.

Baca juga: Minggu Depan Terdakwa Kasus Kredit Fiktif Bank Jogja Akan Jalani Sidang Perdana di PN Yogyakarta

"Prokes liga amatir itu tidak sederhana, tidak ada sistem bubble untuk pemain melakukan karantina. Kita juga tahu swab antigen cukup besar. Minimal dana per pertandingan tiap timnya keluar Rp 10 juta, kalau dibagi dua tiap tim main tujuh kali totalnya jadi Rp 70 juta," paparnya.

Jika dilihat seperti itu, tentu biaya yang dikeluarkan akan terlampau besar untuk sekelas liga amatir yang ditanggung oleh federasi daerah. Sehingga federasi pusat harus segera menemukan skema terbaik untuk mengatasi masalah ini jika ingin Liga 3 berjalan. (tsf)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved