Breaking News:

Menemukan Prinsip-Prinsip Bung Karno sebagai Pondasi dalam Membentuk Kepribadian Bangsa

Berdialektika mengenai negara Indonesia yang merdeka tentu tidak akan pernah lepas dari nama Bung Karno.

Editor: ribut raharjo
InfoBiografi.Com
Bung Karno 

Oleh: Satrio Toto Sembodo

TRIBUNJOGJA.COM - Berdialektika mengenai negara Indonesia yang merdeka tentu tidak akan pernah lepas dari nama Bung Karno.

Sebab, memiliki relevansi yang kuat dengan prinsip-prinsip hidup Bung Karno atau Bung Karno Principles dan Pancasila.

Hal ini selaras ketika kita berbicara tentang negara Amerika Serikat Bersatu dengan Abraham Lincoln yang meletakan nilai-nilai Amerika mengenai kebebasan dan kesetaraan, kekuasaan yang dibatasi oleh konstitusional, menghapuskan perbudakan serta penyatuan negara-negara bagian yang terlibat dalam perang saudara.

Dengan melakukan studi perbandingan di antara negara, tokoh maupun konsep norma dalam berbangsa dan bernegara tersebut dapat menjadi jembatan imajinasi, bahwasanya setiap negara dan bangsa didirikan dan digerakkan oleh suatu nilai yang khas yang digali dari sebuah proses kontemplasi yang mendalam.

Bung Karno dan tokoh-tokoh kebangsaan di dunia adalah sosok yang dikarunia anugerah inderawi oleh Tuhan untuk menemukan, menyimpulkan, mengonseptualisasi serta menyampaikan kepada perjalanan sejarah bangsanya nilai-nilai yang menjadi DNA atau Natural Identity dari Bangsa dan Negara-nya.

Berdialektika dengan prinisip-prinsip Bung Karno dan Pancasila-nya juga merupakan jembatan imajinasi tentang Indonesia masa lalu-masa kini dan masa datang, khususnya tentang imajinasi model kepribadian yang menjadi karakter dan budaya seharusnya bagi bangsa Indonesia.

Bahkan dapat dijadikan rujukan bangsa-bangsa di dunia yang multi identitas dan multi kultural hidup berdampingan sebagai umat manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrah alamiahnya.

Dalam pidatonya, pada sidang PBB pada 30 September 1960 silam, Bung Karno menolak pendapat Bertrand Russel, seorang filsuf Inggris yang membagi dunia hanya ke dalam dua poros ideologi, yakni liberalisme/kapitalisme dan komunisme. Bung Karno mengatakan, Indonesia tidak dipimpin oleh kedua paham tersebut.

Dengan lantang Bung Karno mengucapkan, “Dari pengalaman kami sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih sesuai, sesuatu yang jauh lebih cocok. Sesuatu itu kami namakan Pancasila. Gagasan-gagasan dan cita-cita itu, sudah terkandung dalam bangsa kami. Telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional.”

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved