Breaking News:

Feature

Hardiyono Makin Kondang Berkat Modifikasi Mobil Pribadi Jadi Ambulan

Wabah virus corona yang melanda Kabupaten Klaten sejak satu tahun terakhir meningkatkan rasa kemanusiaan.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan
Seorang pekerja saat memasukan stretcher (tandu lipat) ke dalam sebuah ambulans yang sedang ia kerjakan di Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Senin (9/8/2021). 

Wabah virus corona yang melanda Kabupaten Klaten sejak satu tahun terakhir meningkatkan rasa kemanusiaan. Banyak instansi pemerintah, organisasi, komunitas hingga masyarakat pribadi yang menyulap mobil miliknya menjadi ambulans untuk membawa pasien maupun jenazah Covid-19.

SEIRING perkembangan kasus Covid-19 yang melonjak pada Juni dan Juli 2021, permintaan perakitan atau modifikasi mobil biasa menjadi ambulans di Klaten juga mengalami peningkatan. Seorang perakit mobil ambulans di Klaten, Hardiyono (43) mengatakan, sejak Juni dan Juli pihaknya banyak mendapatkan pesanan perakitan ambulans untuk mobil relawan.

"Peningkatannya sejak dua bulan terakhir, pada Juni dan Juli itu ada 5 mobil yang minta dirakit jadi ambulans, dua mobil sudah selesai," ujarnya saat ditemui di rumahnya di Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Senin (9/8/2021).

Menurutnya, perakitan mobil ambulans yang ia buat adalah mobil ambulans yang biasa digunakan oleh relawan di Klaten. "Ambulans yang saya rakit ini adalah yang biasa digunakan oleh relawan, ya. Jadi bukan ambulans medis, kalau ambulans medis kan nanti (fasilitasnya lengkap) ada lemari khusus juga," ucapnya.

Meski begitu, ambulans yang ia rakit juga memperhatikan standar perlengkapan ambulans relawan pada umumnya. "Ambulans yang saya rakit itu juga menyiapkan standar ambulans seperi ada apar, kotak P3K, oksigen, tapi saya tidak ada lemari khusus seperti ambulans medis itu," jelasnya.

Dalam merakit satu mobil biasa jadi ambulans, lanjut dia, beberapa bahan yang dibutuhkan di antaranya, papan multiplek super full meranti untuk lantai. Kemudian strobo, stretcher (tandu lipat ambulans), tabung oksigen, apar, kotak P3K, dan perlengkapan lainnya.

Sementara, untuk jenis mobil yang digunakan haruslah mobil yang memiliki kabin yang cukup luas sehingga bisa menampung perlengkapan ambulans. "Peralatan yang saya pakai itu sebagian pesan dari Jakarta dan itu SNI, ya, jadi kita pakai yang kualitas bagus," katanya.

Disinggung terkait biaya perakitan satu unit ambulans, kata Hardiyono, berkisar antara Rp21 juta hingga Rp25 juta. "Kalau biaya perakitan ambulans itu sekitar Rp21 hingga Rp25 juta. Lama pengerjaan sekitar dua minggu, saya punya dua teman kerja yang bantu-bantu saya," ucapnya.

Tak cari untung
Hardi pun menegaskan, karena dirinya juga relawan jadi dia hanya fokus untuk membantu perakitan dan tidak terlalu berpikir untuk mencari untung. "Karena kita relawan jadi kita fokus untuk membantu bukan untuk mencari keuntungan, ya, ini karena saya relawan," imbuhnya.

Di samping itu, ia menceritakan keahliannya dalam memodifikasi mobil biasa menjadi ambulans dipelajari secara autodidak, karena dirinya sering memperbaiki ambulans selama menjadi relawan ambulans Klaten.

"Awalnya mulai merakit mobil pribadi menjadi mobil ambulans karena saya juga relawan ambulans. Jadi teman-teman relawan yang lain sering datang ke sini (rumah) minta pasang strobo atau yang terkait dengan memperbaiki ambulans," ucapnya.

Pihaknya juga dipercaya merakit satu mobil biasa jadi ambulans, sejak saat itu permintaan dari para relawan untuk merakit ambulans terus berdatangan. "Saya juga dipercayakan oleh teman-teman dari Klaten Selatan untuk merakit satu mobil biasa jadi mobil ambulans. Setelah jadi, akhirnya banyak dari teman-teman relawan lainnya yang merekomendasikan ke teman-teman mereka," tandasnya. (Almurfi Syofyan)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Sabtu 14 Agustus 2021.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved