Breaking News:

PSIM Yogyakarta

Mimpi Jadi Kenyataan, Ini Dia Cerita Kekaguman Imam Arief Terhadap Seto Nurdiyantara

Waktu itu saya masih 19 tahun, lihat beliau (Seto) pas jadi kapten saya kagum sekali, apalagi waktu menjadi pelatih.

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
(Dok PSIM)
Rekrutan anyar PSIM Yogyakarta di bawah mistar gawang, Imam Arief Fadillah. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kiper senior PSIM Yogyakarta, Imam Arief Fadilah mengaku jika dilatih oleh Seto Nurdiyantoro merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Rasa kagum Imam Arief terhadap Seto menjadi salah satu alasan mengapa dirinya senang dilatih pelatih asal Kalasan, Sleman itu.

Sepanjang kariernya menjadi pesepakbola, Imam sebelumnya lebih kerap berseberangan dengan Seto. Ia menceritakan awal mula pertemuannya pada tahun 2009 silam, saat masih membela Persitara Jakarta Utara dan Seto saat masih aktif menjadi pemain PSIM.

Dari sana, Imam mulai mengagumi Seto. "Waktu itu saya masih 19 tahun, lihat beliau (Seto) pas jadi kapten saya kagum sekali, apalagi waktu menjadi pelatih. Dia salah satu pelatih bertangan dingin di Indonesia," kata Imam, Selasa (3/8/2021).

Kekagumannya terhadap sosok pelatih yang juga sempat membesut PSS Sleman itu tak hanya sampai di sana. Beberapa kali ketika mentas di Liga 1, Imam kerap berhadapan dengan skuat yang ditukangi Seto.
Dari jauh pemain berusia 31 tahun ini hanya bisa bergumam, "Kapan saya bisa dilatih oleh beliau?" ujarnya dalam hati.

Musim 2021 ini ternyata menjadi berkah bagi Imam dengan resmi berseragam PSIM meskipun sempat ada tawaran beberapa klub lain. Selain kembali bisa melanjutkan kariernya di level profesional, impiannya agar bisa dilatih seto akhirnya terwujud.

Adapun, faktor kepindahan Imam selain ingin dilatih Seto, ada pula peran dua pemain PSIM yang sudah bergabung lebih dulu, Purwaka Yudhi dan Ahmad Subagja Baasith menjadi salah satu kunci suksesnya Imam berpindah ke Laskar Mataram, julukan PSIM.

"Saya dihubungi oleh kedua rekan saya itu. Mereka kasih saya banyak informasi soal PSIM dan Yogyakarta, tentu saya tertarik. Apalagi jarak Yogyakarta dan kampung halaman saya Tasikmalaya tidak jauh, ketimbang harus ke Jawa Timur," bebernya eks kiper Persebaya Surabaya ini.

Sebelum berlabuh ke PSIM Yogyakarta, bapak satu anak ini sempat memperkuat Sriwijaya FC pada musim 2020. Di sana ia belum sempat berlama-lama, lantaran sepak bola Indonesia harus vakum akibat pandemi Covid-19.

Pilih bisnis
Mengidolai sosok Seto Nurdiyantoro tak lantas membuat Imam bercita-cita sebagai pelatih seperti Seto selepas pensiun. Ia lebih memilih terjun ke manajemen tim sesuai apa yang telah dipelajarinya di bangku kuliah di jurusan manajemen.

"Saya tidak mau kalau jadi pelatih, mending ke bagian manajemennya saja," jelasnya,

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved