Wabah Virus Corona

Penjelasan Menkes Mengapa Pasien Covid-19 Meninggal di RS Lebih Cepat

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap penyebab meningkatnya angka kematian pasien Covid-19 beberapa waktu terakhir.

Tayang:
Editor: Rina Eviana
BAY ISMOYO / AFP
LUSTRASI - Anggota keluarga mengunjungi makam kerabat mereka di pemakaman korban virus corona Covid-19 

Tribunjogja.com - Sepanjang Juli 2021, kasus Covid-19 Indonesia meroket. Situasi ini semakin terlihat mengkhawatirkan lantaran lonjakan pasien Covid-19 membuat sejumlah rumah sakit penuh.

Tak hanya itu, kasus pasien Covid-19 pun banyak yang meninggal dunia.

Hingga kemarin pun angka kematian pasien Covid-19 masih di atas angka 1.000 per hari.

Foto udara ini menunjukkan para pekerja menguburkan jenazah korban virus corona Covid-19 di TPU Pedurenan, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Juli 2021.
Foto udara ini menunjukkan para pekerja menguburkan jenazah korban virus corona Covid-19 di TPU Pedurenan, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Juli 2021. (BAGUS SARAGIH / AFP)

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap penyebab meningkatnya angka kematian pasien Covid-19 beberapa waktu terakhir.

Ia menyebut, banyak pasien yang tutup usia tak lama setelah dirawat di rumah sakit.

"Yang wafat di rumah sakit mendadak jadi lebih cepat, biasanya rata-rata sebelumnya 8 hari, sekarang rata-rata 3 hari, 4 hari sudah wafat," kata Budi dalam konferensi pers virtual usai rapat terbatas dengan presiden dan sejumlah menteri, Senin (2/8/2021).

Tak hanya itu, semula, pasien meninggal dunia paling banyak yang dirawat di ruang ICU. Tapi, belakangan, tidak sedikit pasien IGD yang juga tutup usia akibat Covid-19.

"Dulu wafatnya kebanyakan di ICU, di IGD paling cuma 1 persen, 2 persen. Sekarang di IGD hampir 20 persen kita heran, kok kenapa orang di IGD jadi banyak yang wafat," ujar Budi.

Baca juga: Sudah Seribu Orang di Bantul Meninggal Terpapar Covid-19

Ternyata, kata Budi, banyak pasien meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan di rumah sakit.

Dahulu, pasien Covid-19 yang masuk ke rumah sakit saturasi oksigennya berada di angka 90-93. Namun kini, banyak pasien dengan saturasi oksigen 70-80 persen baru dibawa ke RS.

Kondisi tersebut dinilai sudah sangat terlambat. Sebab, virusnya sudah menyebar ke dalam paru dan menyebabkan sesak.

Pekerja rumah sakit mempersiapkan jenazah seorang pasien yang meninggal karena Covid-19 untuk dimakamkan di Bandung pada 1 Juli 2021, menjelang pembatasan virus corona
Pekerja rumah sakit mempersiapkan jenazah seorang pasien yang meninggal karena Covid-19 untuk dimakamkan di Bandung pada 1 Juli 2021, menjelang pembatasan virus corona "darurat" yang akan diberlakukan minggu ini untuk memerangi lonjakan infeksi yang mengkhawatirkan di Indonesia. (Timur Matahari / AFP)

Budi menyebut, hal ini disebabkan karena kurangnya edukasi ke masyarakat mengenai Covid-19. Masih ada warga yang menganggap bahwa Covid-19 adalah aib.

Padahal, angka kematian pasien virus corona lebih rendah daripada TBC dan HIV. Apabila dirawat dengan cepat, masih besar kemungkinan pasien sembuh.

"Enggak usah malu, nggak usah khawatir kalau kena, yang penting lapor saja, cepat-cepat tes, nggak usah takut dites. Begitu kita tahu bisa kita tangani," ujar Budi.

Baca juga: 5 Provinsi dengan Penambahan Angka Tertinggi Harian Kasus Covid-19 di Indonesia

Selain itu, lanjut Budi, tingginya angka kematian disebabkan karena masyarakat belum paham betul mengenai saturasi oksigen.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved