Breaking News:

Petani Lahan Pasir Bantul Merugi Gegara Harga Cabai Terus Merosot

Sebagian petani di Pedukuhan Patihan, Gadingsari, Kabupaten Bantul terpaksa harus menelan pil pahit.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
istimewa
Cabai merah hasil panen petani Patihan, Gadingsari, Sanden, Bantul. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sebagian petani di Pedukuhan Patihan, Gadingsari, Kabupaten Bantul terpaksa harus menelan pil pahit. Harga cabai kian merosot di tengah sulitnya perekonomian.

Saat ini harga jual cabai merah di tingkat pengepul wilayah setempat hanya di kisaran Rp5.500 per kilogram. Harga tersebut tidak sebanding dengan ongkos perawatan yang telah dikeluarkan oleh petani.

"Kami merugi, tapi kalau mau dibuang di jalan kayak orang nesu (marah). Untuk menutup ongkos produksi saja tidak nutup," kata Ketua Kelompok Tani Dusun Patihan, Gadingsari, Bantul, Martono, Kamis (29/7/2021).

Ia menyebut, petani lahan pasir Kalurahan Gadingsari saat ini menanam cabai merah pada lahan seluas total 14 hektare, mayoritas berupa cabai merah imperial. Martono menanam cabai merah imperial pada lahan 3.000 meter persegi.

Harga jual yang terus merosot pasca Iduladha membuat para petani di Bantul selatan itu terpukul. Menurut Martono, budi daya cabai merah di lahan pasir membutuhkan energi dan modal tidak sedikit. Idealnya, harga jual di kisaran Rp12 ribu-17 ribu per kilogram.

Kalau harga di bawah Rp10 ribu, sudah pasti petani merugi. Sebab, biaya kuli petik Rp70 ribu per hari, atau setara 13 kilogram cabai. "Itu hanya biaya untuk panen. Belum biaya perawatan ataupun pupuk. Yowes, lika-liku petani seperti ini," ucapnya, pasrah.

Penurunan harga cabai merah diduga imbas dari pemberlakuan pengetatan kegiatan masyarakat (PPKM) berkepanjangan, terutama pada daerah tujuan penjualan. Distribusi tertahan hingga tak terangkut. "Kami berharap, ada teknik budidaya, misalnya Pemkab Bantul mau mengalirkan kabel listrik ke wilayah lahan pasir Patihan, sehingga biaya penyiraman bisa ditekan," kata dia.

Pedagang cabai asal Srigading, Bantul Lusiantoro mengatakan, anjloknya harga cabai karena permintaan pasar sedang turun. Hal itu diperparah adanya perpanjangan PPKM level 4 di Jawa dan Bali. "Sebelum PPKM Level 4 saya masih bisa kirim 10 ton cabai.

Sekarang paling banyak hanya bisa kirim lima ton," katanya.

Menurutnya, pasar di DKI Jakarta jadi tolok ukur permintaan. Ketika permintaan di Ibukota sepi, stok akan menumpuk dan harga dipastikan jatuh. Sebab itu, Lusiantoro mengaku sekarang hanya mengirim sesuai permintaan.

"Kadang di pasar A minta dua kuintal, pasar B minta lima kuintal. Itupun dengan hitungan biaya transport masih untung. Jika rugi, saya tidak kirim," ujar dia. (rif)

Baca selengkapnya Tribun Jogja edisi Jumat 30 Juli 2021 halaman 04.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved