Libur Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriyah dan 1 Suro 2021 Menurut Kalender Masehi
1 Muharram 1443 Hijriyah - bertepatan dengan 1 Suro 2021 menurut Kalender Jawa - jatuh pada hari Selasa 10 Agustus 2021 (Kalender masehi)
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM - Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriyah - bertepatan dengan 1 Suro 2021 menurut Kalender Jawa - jatuh pada hari Selasa 10 Agustus 2021 (Berdasarkan kalender atau penanggalan masehi).
Pada tanggal tersebut di Indonesia merupakan hari libur nasional. Hari pertama pada bulan Muharram ini mengawali tahun Hijriyah.
Bulan Muharram - yang bertepatan dengan sasi suro dalam kalender Jawa - ini dianggap bulan istimewa.
Beberapa amalan disunahkan bagi umat muslim saat menyambut bulan Muharram di antaranya Puasa Asyura dan Puasa Tasua.
Sebagai catatan, 1 Suro (Pada tahun ini adalah 1 Suro 2021 ) merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, dikutip Tribun Jogja dari laman kompas.com.
Tanggal 1 Suro bersamaan dengan tanggal 1 Muharram menurut kalender Hijriah. Adapun kalender Jawa adalah sistem penanggalan yang digunakan Kasultanan Mataram yang kala itu di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma sekitar 1613-1645.
Kalender itu merupakan penggabungan penanggalan Islam dengan penanggalan Saka yang diwarisi Agama Hindu.
Adapun dalam kalender Jawa, bulan pertama adalah Suro, dilanjutkan bulan kedua Sapar, lalu Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Syawal, Sela, dan Besar.
Nah, pada bulan Agustus 2021 ini Indonesia selain merayakan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus juga memiliki hari libur nasional pada Tahun Baru Islam 2021 atau 1 Muharram 1443 Hijriyah.
Hari Libur Nasional Tahun Baru Islam 1443 Hijriah yang awalnya jatuh pada hari Selasa, 10 Agustus 2021 itu diubah menjadi hari Rabu, 11 Agustus 2021, dikutip Tribun Jogja dari setkab.go.id via Tribunnews.
Jadi Kapan Tahun Baru Islam 2021 atau 1 Muharram 1443 Hijriyah - yang bertepatan dengan 1 Suro 2021 ?
Menurut kalender hijriyah, tahun baru 1 Muharram 1443 Hijriyah jatuh pada hari Selasa 10 Agustus 2021.
Perhitungan Tahun Baru Islam bermula saat masa Umar bin Khattab R.a. Tepatnya, enam tahun paska wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Salah satu riwayat menyebutkan yaitu ketika Khalifah mendapat surat balasan yang mengkritik bahwa suratnya terdahulu dikirim tanpa angka.
Kemudian, beliau bermusyawarah dengan para sahabat dan singkat kata, mereka pun berijma untuk menjadikan momentum di mana terjadi peristiwa hijrah Nabi sebagai awal mulai perhitungan tahun dalam Islam, sebagaimana dilansir kalbar.kemenag.go.id.
Tahun Baru Islam dapat dimaknai deengan mengingat kembali pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.
Amalan di Bulan Muharram
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam tahun Hijriyah. Selain itu Muharram atau bulan asyura merupakan salah satu bulan istimewa.
Ada beberapa amalan yang disunahkan bagi umat muslim saat menyambut bulan Muharram di antaranya Puasa Asyura dan Puasa Tasua.
Sama halnya seperti Bulan Dzulhijjah, Bulan Muharram juga memiliki keutamaan yang luar biasa.
Di bulan Muharram, umat muslim akan memperingati Tahun Baru Islam dan menjalankan puasa Tasua dan puasa Asyura.
Memasuki hari ke-9 dan ke-10 Bulan Muharram, umat muslim disunahkan menjalankan puasa Tasua dan Asyura.
Puasa Tasua merupakan puasa sunnah yang bisa dikerjakan pada tanggal 9 Muharram. Sedangkan puasa Asyura ditunaikan pada tanggal 10 Muharram.
Bacaan Niat Puasa Puasa Tasua dan Puasa Asyura
Berikut ini bacaan niat serta keutamaan Puasa Tasua dan puasa Asyura.
Puasa Tasua
Puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram.
Berikut bacaan niat Puasa Tasua :
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُعَاءْ سُنَّةَ ِللهِ تَعَالَى
"Nawaitu sauma tasu'a sunnatal lillahita’ala"
Artinya: Saya niat puasa hari tasua, sunnah karena Allah ta’ala.
Ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasua:
1. Untuk menyambung puasa hari Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja.
2. Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.
3. Untuk membedakan dengan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.
Niat Puasa Asyura
Dalam mazhab Syafi’i, lafal niat Puasa Asyura sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاء سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
(Nawaitu shouma fii yaumi aasyuuroo’ sunnatan lillaahi ta’aalaa)
Artinya: saya niat puasa sunnah asyura sunnah karena Allah Ta’ala.
Keutamaan Puasa Asyura
Puasa Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa.
Tiga di antara keutamaan Puasa Asyura dijelaskan dalam hadits-hadits berikut ini.
1. Puasa paling utama
Puasa Asyura (juga puasa Tasua) merupakan puasa yang dikerjakan di bulan Muharram.
Puasa di bulan Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan keutamaan puasa Muharram dengan sabda beliau:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa bulan) Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
سُئِلَ أَىُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَىُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Shalat manakah yang lebih utama setelah shalat fardhu dan puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?”
Beliau bersabda, “Shalat yang paling uatama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam dan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yakni) Muharram.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)
2. Puasa yang diutamakan Nabi
Puasa Asyura merupakan puasa yang istimewa bagi Rasulullah dan sangat diutamakan beliau.
Ibnu Abbas menerangkan, tidak ada puasa sunnah yang lebih diutamakan Rasulullah melebihi Puasa Asyura.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ . يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ia berkata, saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan puasa satu hari yang diutamakannya atas yang lainnya selain hari ini, hari asyura dan bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)
3. Menghapus dosa setahun sebelumnya
Inilah keutamaan Puasa Asyura yang paling banyak diketahui.
Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun sebelumnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Rasulullah ditanya tentang Puasa Asyura, beliau menjawab, “dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)
(*/era/ Tribun Jogja /Tribunnews/kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/libur-tahun-baru-islam-1-muharram-1443-hijriyah-dan-1-suro-2021-menurut-kalender-masehi.jpg)