Breaking News:

Feature

Siasati Edukasi pada Masa Pandemi, Guru SMPN 2 Karangpucung Cilacap Manfaatkan Lebah

ANGAN para guru memulai tahun ajaran baru dengan tatap muka secara terbatas, musnah setelah pemerintah menerapkan PPKM.

Editor: Agus Wahyu
DOK. PRI
BELAJAR - Siswa-siswi SMPN 2 Karangpucung Kabupaten Cilacap memanfaatkan lebah sebagai sarana belajar matematika, Senin (26/7/2021). 

Angan para guru memulai tahun ajaran baru dengan tatap muka secara terbatas, musnah setelah pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Apalagi, terjadi lonjakan kasus yang memaksa siswa kembali belajar dari rumah masing-masing. Termasuk, di Kabupaten Cilacap.

UNTUK mengatasi kejenuhan siswa belajar dari rumah, guru Matematika SMP Negeri 2 Karangpucung, Cilacap, Yoki Iskandar, mengajak anak didiknya memanfaatkan lebah sebagai objek belajar. Dengan aset yang ada di desanya, Yoki melakukan pembelajaran dengan membuat video pembelajaran bersama rekan kerja dan empat orang siswa.

Ia memanfaatkan barang bekas berupa kalender bekas sebagai media menulis dan papan bekas hasta karya lukisan seni budaya sebagai alas untuk menulis. Yoki membuat inovasi dalam pembelajaran matematika di kebun budidaya lebah bambu betung yang dimiliki.

Pembelajarannya dimulai dengan mengajak siswa ke kebun lebah berjeni Apis Trigona yang tak bersengat. Dari beberapa keistimewaan jenis lebah ini, diambil satu keistimewaannya, yaitu mampu memperbanyak koloni.

Fenomena itu, oleh Yoki, dikaitkan dengan materi pembelajaran matematika tentang bentuk barisan dan deret bilangan geometri dengan rasio dua. "Dari satu koloni lebah Apis Trigona, dapat dipecah menjadi dua koloni dalam satu bulan. Sehingga, dituliskan ke dalam barisan bilangan geometeri selama setengah tahun membentuk barisan, misalnya 1, 2, 4, 8, 16, 32," jelasnya dalam rilis, Senin (26/7/2021).

Keistimewaan ini kemudian dibuat sebagai soal matematika yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Sehingga, pembelajaran matematika tentang barisan dan deret matematika mudah dipahami.

Yoki mengatakan, kegiatan belajar ini dilakukan untuk mengatasi kejenuhan siswa belajar daring. Tentu saja, pelaksanaannya sudah mendapatkan izin dari kepala sekolah dan orang tua siswa, serta dilakukan dalam prokes yang ketat.

Salah satu murid, Dena Dwi Alrizky, mengungkapkan, belajar Matematika melibatkan lebah memiliki sensasi tersendiri. "Pembelajaran di alam terbuka lebih menyenangkan karena bisa berinteraksi dengan alam dan bisa menghirup udara segar. Kami juga dihadapkan pada lebah dan mendebarkan," ujar Dena.

Rekan kerja yang ikut andil dalam proses pembuatan video pembelajaran, Singgih Wiku Yuwono juga mengatakan, pembelajaran di lapangan memiliki daya tarik tersendiri. Menurutnya anak-anak lebih suka belajar sambil bermain, terlebih di masa pandemi ini.

"Saya menyaksikan secara langsung bagaimana anak-anak antusias belajar Matematika bersama Pak Yoki. Mulai tahap pembukaan, inti, dan penutup, mereka bersemangat dan saling berebut untuk menyampaikan pendapat dan jawaban mereka. Padahal selama ini, Matematika merupakan mata pelajaran yang sering dihindari oleh siswa," katanya. (Tribunbanyumas/Permata Putra Sejati)

Baca selengkapnya Tribun Jogja edisi Selasa 27 Juli 2021 halaman 06.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved