Yogyakarta

Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan : Indahnya Berbagi Saat Pandemi Covid-19

Di tengah keprihatinan pandemi Covid-19, Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan tetap dan terus berbagi kepada sesama dan lingkungan.

Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Ndarsih (tengah) penjual angkringan yang suaminya masih menjalani isoman karena dinyatakan positif covid-19 dan Waginah menerima bantuan makanan tambahan. 

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah keprihatinan pandemi Covid-19, keluarga besar Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan tetap dan terus berbagi kepada sesama dan lingkungan.

Terlebih bagi yang membutuhkan, terutama warga positif covid-19 dan keluarga yang isoman serta masyarakat marginal.

Wilayah kampung Gesikan Dukuh Jaranan Desa Panggungharjo Kapenawon Sewon Kabupaten Bantul DIY, termasuk zona merah.

Warga masyarakat bersama para tokohnya bergotong royong memberikan beras, minyak goreng, sayur-mayur, telur ataupun vitamin dan makanan tambahan untuk meringankan beban bagi anggota dan keluarga yang menjalani isolasi mandiri.

Baca juga: Kasus Covid-19 di DIY Tinggi, Tingkat Keterisian Selter Isolasi Masih Minim

"Tak perlu kaya dan besar dahulu untuk bisa berbagi, niat yang tulus dan kesungguhan akan meringankan langkah kaki dalam menebar kasih sayang," ujar KH Beny Susanto, S.Ag. MSI  selaku Pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan dan A’wan Syuriah PWNU DIY.

Anjar Rahman adalah satu di antaranya.

Anjar yang merupakan kepala keluarga ini tidak bisa bekerja dan harus menjalani isolasi karena dinyatakan posotif covid-19 dari hasil pemeriksaan Puskesmas Sewon.

Istrinya yang bernama Ndarsih pun harus libur untuk menghidupi dua anak.

Ndarsih tidak berjualan angkringan dan keluar dari rumah yang digunakan suami untuk isoman.

"Potret seperti keluarga Anjar Rohman tidak sendirian dan beruntung warga masyarakat hidup guyub, saling membantu dan meringankan," kata Beny.

Para santri Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan sebagai bagian kecil merasakan betapa nikmat dan indahnya berbagai di saat pandemi.

Ada juga Ngadino, tukang becak yang libur, tidak bisa bekerja karena demam dan batuk.

Baca juga: BIN Siapkan 15 Ribu Dosis Vaksin Covid-19, Sasar 7 Provinsi Zona Merah

Sementara istrinya yang bernama Waginah bekerja serabutan tanpa menginap, membersihkan rumah milik orang kaya.

"Spirit perjuangan, mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan yang terbentang luas menjadi etos hidup yang menghidupi untuk menghadapi situasi pandemi yang meluas, tetapi terus menurun sejak kebijakan PPKM darurat. Dengan tetap senyum, sebagai tanda ridho atas kehendak dan putusan Tuhan Yang Maha Esa. Para santri terus mendekat, memperbanyak bacaan beristigfar, shalawat dalam sunyi dan membaca qunut nazilah di setiap rakaat terakhir salat fardlu, agar diberikan kesehatan sempurna dan dilindungi dari pandemi serta segera diangkat oleh Allah SWT," paparnya.

"Melalui kerja sama, tolong menolong, saling berbagi, mengikuti protokol kesehatan dan mendekatkan diri kepada Tuhan, pandemi covid-19 atas izin dan kehendakNya akan berakhir dan tidak membahayakan lagi. Terbutkti warga yang dinyatakan positif dan keluarga yang isolasi banyak sembuh kembali. Semoga atas berkah dan rahmat Tuhan Yang Maha Agung, dengan spirit kasih sayang, rahmatan lil’alamin pandemic covid-19 akan segera berlalu dari bangsa dan Negara Indonesia," sambungnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved