Breaking News:

Krisis Air Bersih Ancam 127 Ribu Warga Gunungkidul

BPBD Gunungkidul telah mendata wilayah hingga warga yang berpotensi terdampak kekeringan di musim kemarau ini.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Sejumlah armada pengangkut air bersih yang dimiliki BPBD Gunungkidul 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul telah mendata wilayah hingga warga yang berpotensi terdampak kekeringan di musim kemarau ini. Penyaluran air bersih (dropping) pun mulai dilakukan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki menyampaikan berdasarkan pendataan, terdapat 16 kapanewon yang berpotensi mengalami kekeringan tahun ini. "Warga yang berpotensi terdampak krisis air tahun ini mencapai 127.404 jiwa," kata Edy pada wartawan, Jumat (23/7/2021).

Ia mengatakan hanya Kapanewon Playen dan Karangmojo yang disebut menjadi wilayah terbebas masalah kekeringan. Sedangkan sejauh ini, sudah ada 10 kapanewon yang mengajukan permohonan dropping air bersih, yakni Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Paliyan, Panggang, Semin, Wonosari, Patuk, dan Saptosari.

"Sejauh ini kami sudah menyalurkan 692 tangki air bersih ke wilayah yang membutuhkan," ungkapnya.

Edy mengatakan tahun ini pihaknya menyiapkan 2.200 tangki air bersih, mengambil anggaran sebesar Rp700 juta khusus untuk penanganan kekeringan. Proses dropping memanfaatkan lima armada tangki pengangkut air beserta lima unit mesin pompa.

Meski demikian, ia mengatakan dropping air tidak harus dilakukan seluruhnya oleh BPBD Gunungkidul. "Beberapa kapanewon sudah memiliki anggaran sendiri sehingga bisa dropping air secara mandiri, namun tetap saja ada yang mengajukan bantuan," jelas Edy.

Koordinasi dengan kapanewon terkait pun dilakukan BPBD Gunungkidul. Tujuannya agar tidak terjadi tumpang tindih atau bantuan air bersih ganda pada masyarakat.

Terpisah, Panewu Anom Girisubo Arif Yahya membenarkan pihaknya sudah memiliki anggaran untuk dropping air. Namun anggatan tersebut dinilai belum mencukupi. "Penyaluran air bersih perlu dilakukan ke seluruh kalurahan, sedangkan dananya tidak cukup," jelas Arif.

Itu sebabnya, permohonan bantuan dropping tetap diajukan Girisubo ke BPBD Gunungkidul. Adapun Girisubo menjadi wilayah yang kerap mengalami krisis air di musim kemarau. (alx)

baca selengkapnya Tribun Jogja edisi Sabtu 24 Juli 2021 halaman 04.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved