Breaking News:

Banyak Warga Tak Dapat Tempat Isoman, Asrama Syantikara Yogyakarta Dijadikan Selter Pasien Isolasi

Asrama Syantikara sudah dapat digunakan untuk menampung pasien-pasien terpapar Covid-19 yang kesulitan mendapatkan tempat untuk isolasi mandiri.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Shutterstock/Kobkit Chamchod via kompas.com
Ilustrasi pasien corona, virus corona, Covid-19 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keterbatasan tempat isolasi yang disediakan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membuat para pimpinan Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara menjadikan asrama para mahasiswa itu sebagai selter Covid-19. 

Saat ini, asrama Syantikara sudah dapat digunakan untuk menampung pasien-pasien terpapar Covid-19 yang kesulitan mendapatkan tempat untuk isolasi mandiri.

Bidang Kesekretariatan Shelter Syantikara, Sr Birgitta Diah Juliati CB, menceritakan Selter Syantikara ini lahir atas keprihatinan dari Keuskupan Agung Semarang (KAS), Mgr. Robertus Rubiyatmoko. 

Mgr. Robertus merasa resah dengan merebaknya sebaran kasus Covid-19 diberbagai wilayah, salah satunya di DIY.

Baca juga: Update Covid-19 DIY Selasa 20 Juli 2021: Tambah 1.872 Kasus Baru, Angka Kematian Melonjak 70 Kasus

Baca juga: BREAKING NEWS : Wakil Wali Kota Yogya Heroe Poerwadi Terpapar Covid-19, Tidak Bergejala Berat

Di sisi lain rumah sakit serta pelayanan kesehatan mulai kewalahan dalam memberikan pelayanan kepada pasien Covid-19. 

Dampaknya tidak sedikit pasien yang lantas kesulitan mendapatkan akses dalam pelayanan kesehatan, sehingga beberapa dari mereka meninggal saat menjalani isoman.

"Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengajak para pimpinan Kongregasi dan Tarekat di KAS untuk menanggapi keprihatinan ini. Sr. Yustiana, CB sebagai Provinsial Kongregasi CB segera bertindak dan memutuskan Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara dijadikan shelter untuk menampung pasien-pasien yang kesulitan mendapatkan tempat untuk isolasi mandiri maupun mereka yang seharusnya dirawat di rumah sakit," kata Birgitta, kepada Tribun Jogja, Selasa (20/7/2021). 

Birgitta mengatakan bersama dengan para Pimpinan Unit Karya RS di bawah naungan Yayasan Panti Rapih lantas dibentuklah sebuah panitia. 

Sejumlah nama mengisi kepanitian tersebut, mulai dari Dirut RS Panti Rapih, Triputro Nugroho sebagai ketua I dan Direktur RS Panti Rini, Y. Agus Wijanarko sebagai ketua II. 

"Selanjutnya para suster CB dan para pimpinan unit karya YPR dan YS segera bertindak dan menyiapkan RPCB  Syantikara sebagai shelter untuk isolasi mandiri," ungkapnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved