Pameran Tunggal Petek Sutrisno 'Teenage Fantasy' Super Hero dan Harmoni dalam Mimpi Remaja

Seniman lukis asal DI Yogyakarta, Petek Sutrisno menghadirkan simbol dari budaya pop tentang sebuah fantasi anak remaja sebagai wujud karya seninya

TRIBUNJOGJA/ Hanif Suryo
Seorang pengunjung tengah menyaksikan karya Petek Sutrisno dalam pameran tunggal bertajuk 'Teenage Fantasy' di Langgeng Art Foundation (LAF), Jalan Suryodiningratan, Yogyakarta, Jumat (16/7/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM - Seniman lukis asal DI Yogyakarta, Petek Sutrisno menghadirkan simbol dari budaya pop tentang sebuah fantasi anak remaja sebagai wujud karya seninya dalam pameran tunggal bertajuk 'Teenage Fantasy' di Langgeng Art Foundation (LAF), Jalan Suryodiningratan, Yogyakarta, 9 Juli-10 Agustus 2021.

Bekerja dalam estetika pop surealis, Petek Sutrisno mengekspos bagaimana ikon budaya pop berjajar dengan kehidupan sehari-hari bahkan bagaimana ikon budaya pop ini berjajar dengan budaya tradisi terutama budaya Jawa.

Dalam sebagian besar karyanya, Petek menghadirkan bentuk surealisme pop berpadu dengan estetika kitsch.

Baca juga: BREAKING NEWS: Lansia Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Kos di Bantul 

"Lukisannya berupa kolase simbol, penjajaran ikonografi yang Petek reinterpretasi melalui refleksi kehidupan personalnya. Petek mengadaptasi ikon-ikon pop yang hadir di masa remajanya. Ia beradaptasi dengan kebermainan untuk menghadirkan sebuah suasana memori akan sebuah waktu," ujar penulis pameran, Citra Pratiwi.

"Lukisan Petek menampilkan figur yang dibuat dengan teknik yang sangat halus," tambahnya.

Adapun pada pameran tunggal kali ini, Petek menghadirkan 10 lukisan dalam lingkaran. Lingkaran ini hadir seperti sebuah jendela waktu akan memori, kenangan dan juga situasi masa depan akan sebuah objek.

Karya-karya dalam lingkaran ini hadir dalam situasi bermain dan harmonis. Sebuah lanskap berpadu padan dengan objek kartun bersama mainan dan bunga-bunga.

Melihat karya Petek kita seperti diajak untuk bernostalgia atas mainan di masa kecil seperti robot-robotan, tin toys, tokoh kartun favorit era 90-an. Disana ada Satria Baja Hitam, Mickey Mouse, Gundam, Voltus, Astro Boy, tokoh superhero yang hadir di acara televisi di era 90-an.

"Tokoh tokoh superhero ini mewarnai fantasi Petek sebagai seniman, menjadikannya sebuah tokoh jagoan sekaligus diri masa kecil dalam sebuah karya lukisan. Warna dalam lukisan Petek yang cenderung opaque menghadirkan suasana vintage, kenangan dan rasa yang lampau hadir," jelas Citra.

Petek Sutrisno membawa unsur populis di dalam karya lukisannya. Terinspirasi dari berbagai macam topik dan estetika yang mudah dikenal oleh banyak orang Petek tidak serta merta menempatkan unsur populis ini begitu saja.

Menurut Citra, Petek menghadirkan makna baru atas unsur populis tersebut. Menjadi keistimewaan Petek sebagai seniman, ia membawa akar dirinya sebagai pemuda Jogja yang besar di daerah urban yang juga kuat akar tradisi budaya tradisional.

"Dua unsur ini dijadikan Petek sebagai sebuah pijakan sehingga menciptakan harmoni dan kebermainan dalam menempatkan simbol di dalam karyanya. Karya Petek Sutrisno menghadirkan ulang bentuk pop untuk menyampaikan bentuk lain dengan menggunakan cara yang kini dan playful," kata Citra.

"Unsur bermain dan humor selalu hadir dalam karya Petek meski ada unsur satir yang ia tampakkan. Petek sebagai seniman menciptakan budaya subversif, mengajak kita menciptakan versi baru atas simbol pop dengan menempatkannya bersama objek lain sehingga kita mengalami pemaknaan baru atas keadaaan populer saat ini," lanjutnya.

"10 Lingkaran ini seperti sebuah jendela yang mengajak kita memasuki mimpi seorang remaja yang salah satunya mungkin mimpi kita juga," tambahnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved