Headline

Striker Muda PSIM Ini Pantang Ciut Nyali Ungkap Kelebihan Tim Musim Ini

Kalau dibilang takut lawan tim-tim itu tentu tidak. Tekad kita nanti adalah untuk menyulitkan mereka, untuk bersaing.

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
Dok PSIM
Arbeta Rockyawan 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rekrutan anyar PSIM Yogyakarta musim ini, Arbeta Rockyawan tampaknya sadar jika Liga 2 musim ini tak akan dengan mudah dijalani oleh Laskar Mataram. Alasannya, beberapa klub tampak serius mempersiapkan timnya dengan sokongan dana yang besar untuk merekrut para pemain bintang.

Tak hanya mantan pemain Liga 1 yang diboyong, namun para pemain dengan label Timnas dan naturalisasi jadi kekuatan baru di Liga 2. Sebut saja Rans Cilegon United yang baru diakuisisi Rafi Ahmad, kemudian PSG Pati yang juga bakal berganti nama menjadi AHHA PS Pati setelah dibeli oleh YouTuber, Atta Halilintar.

Lalu yang tak kalah fenomenal adalah Persis Solo, tim yang sahamnya sebagian besar dibeli oleh anak Presiden RI, Kaesang Pangarep dan Menteri BUMN, Erick Thohir. "Kalau dibilang takut lawan tim-tim itu tentu tidak. Tekad kita nanti adalah untuk menyulitkan mereka, untuk bersaing," papar pemain kelahiran 13 September 1996 itu.

Alih-alih ciut nyali, ternyata dengan mendapati tantangan itu Rocky mengaku amat termotivasi untuk membawa PSIM promosi ke Liga 1 musim 2021 ini. Pemain yang datang dari Karangmojo, Gunungkidul ini mengatakan jika PSIM mungkin saja dinilai banyak orang sebagai tim yang tidak diperhitungkan musim ini.

Namun bagi Rocky, PSIM merupakan tim yang kompak dan pekerja keras, sehingga kualitas tim menjadi lebih menonjol ketimbang kuantitas seperti yang dilakukan beberapa tim yang merekrut banyak pemain. Di PSIM, juga tak ada sosok pemain bintang yang tampak dominan memegang peran dalam tim karena semua pemain punya peran sama.

"Mereka mungkin menang kuantitas, tapi kita menang kualitas, kalau soal pengalaman dan skill kita akui masih banyak pemain di luar sana yang jauh lebih mumpuni dan lebih bagus tentunya, tapi kalau soal kekompakan beda lagi, karena menyatukan pemain dalam satu tim itu sangat sulit," jelas Rocky.

Ia pun memberi contoh dengan tim asal Eropa, Leicester City yang berhasil menjadi kampiun Liga Inggris pada musim 2015/20216. Kala itu Leicester City bukan termasuk skuad yang mewah dan diperhitungkan publik bakal memenangkan persaingan kompetisi. Bahkan, bisa dibilang tim dengan kualitas pemain pas-pasan.

Namun berkat kesolidan para pemainnya, Leicester City dapat keluar sebagai juara. Hal itu kemudian menjadi gambaran Rocky untuk memotivasi dirinya membawa PSIM naik kasta. "Selama kita kompak menjadi satu kesatuan dalam tim, naik kasta ke Liga 1 bukanlah hal yang mustahil," kata Rocky. (tsf)

Beda Strategi
Rocky sedikit menceritakan perbedaan gaya permainan yang diperagakan klub lamanya PSCS Cilacap dengan Laskar Mataram. Menurut Rocky, perbedaan paling kentara yakni dari segi strategi. Di PSCS, Rocky kerap diminta untuk lebih banyak menunggu di lini depan menyambut bola.

"Kebanyakan kalau di PSCS itu kita main direct ball atau long pass, jadi bola langsung diarahkan ke depan tanpa harus menguasai bola lebih dulu, yang penting bola sampai ke striker, tidak perlu main taktikal, tapi kekuatan fisik sangat penting," kata Rocky saat dihubungi, Rabu (7/7/2021).

Berbeda dengan PSIM yang saat ini diarsiteki oleh Seto Nurdiyantoro, strategi yang diterapkan sudah termasuk sepak bola modern, yang mana para pemain tidak hanya memiliki spesialisasi di satu posisi tertentu saja. Selain itu perkara kecerdasan mengolah bola dan menciptakan peluang melalui taktik umpan-umpan pendek, menjadi satu kebutuhan penting.

"Di PSIM selain mengandalkan fisik, tapi juga pemain harus mampu berpikir, kita juga belajar pintar memainkan bola mulai dari kiper," tegasnya.

Efek Seto Nurdiyantara
Salah satu alasan kepindahan Rocky dari PSCS ke PSIM adalah keberadaan Seto Nurdiyantara, pelatih yang membuatnya pertama kali berkarir sebagai profesional. Tak heran, pemain berusia 24 tahun ini mengaku bahagia setelah menerima pinangan langsung dari pelatihnya, Seto Nurdiyantara.

Ia mengaku tak menyangka akan dihubungi langsung oleh Seto saat dirinya sedang menunggu kejelasan dari manajemen PSCS. "Waktu itu sebetulnya masih nunggu kejelasan dari PSCS, katanya mau dipanggil lagi. Tapi karena lama, saya prioritaskan PSIM, kebetulan saya dihubungi langsung oleh Coach Seto," beber Rocky.

Apalagi, bagi sosok pemain dengan tinggi 174 sentimeter ini, DIY bukan lagi daerah yang asing. Ia bahkan pernah memperkuat DIY di ajang Pra-PON dengan pelatih yang sama, Seto Nurdiyantoro. "Mungkin karena beliau pengen melihat saya bermain lagi, karena dulu sempat dilatih juga waktu Pra-PON 2016," katanya.

Rocky juga merasa nyaman dengan menjadi bagian PSIM. Hal itu menurutnya ditunjukan dari kekeluargaan yang terjalin antar pemain. Terlebih PSIM memiliki basis suporter yang loyal. "Di PSIM itu kekeluargaannya sangat kental, dan di sini kita sama, tidak ada kata senior dan junior, tidak ada yang perlu merasa dihormati karena lebih tua," ungkapnya. (tsf)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Kamis 8 Juli 2021 halaman 10.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved