Art Culture
Sarkastik Situasi Politik Indonesia Terpajang di Pameran Complex Terrors
Prihatmoko (39) alias Moki, secara gamblang menempatkan diri pada posisi yang bertolak belakang dalam peta politik anak muda saat ini.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Agus Wahyu
BAK anomali, seniman asal Ponjong Gunungkidul, Prihatmoko (39) alias Moki, secara gamblang menempatkan diri pada posisi yang bertolak belakang dalam peta politik anak muda saat ini. Bagaimana tidak? Di tengah banyaknya anak muda yang memilih menjadi oposan rezim, Moki justru sebaliknya.
Moki secara gamblang menunjukkan kecenderungan jalan politiknya, melalui karya cetak saringnya yang dipamerkan dalam A Silkscreen Print Exhibition by Prihatmoko Moki bertajuk Complex Terrors di ruang pamer Kedai Kebun Forum (KKF), Yogyakarta,16 Juni – 5 Juli 2021.
Ya, sekira 30 karya cetak saring di atas kertas yang dipamerkan dalam pameran ini berisi sarkastik tentang situasi politik Indonesia hari ini. Dikemas dalam visual sederhana, menjadikan karya cetak saring ini menarik untuk dicermati sebagai bagian respon politik dari kacamata seorang seniman.
Menariknya, sebagian dari karya yang dipamerkan sudah dikoleksi National Gallery Victoria di Melbourne Australia, sebagai bagian dari koleksi karya kontemporernya. "Bagi Moki, pemerintah dilihat sebagai sebuah entitas yang berniat baik, tapi sekaligus punya potensi berbuat buruk. Oleh karena itu, sikap mendukung, tapi kritis pada beberapa kebijakannya menjadi keharusan," ujar kurator pameran sekaligus direktur artistik KKF, Agung Kurniawan.
Agung Kurniawan menerangkan, karya cetak saring dibuat Moki dengan gaya umbul. Menggunakan warna primer dengan hitam sebagai warna pengikat, sehingga membuat karya-karyanya terlihat seperti poster politik.
Menurutnya, ketertarikan Moki pada seni pop bisa jadi pemicu gaya visualnya. "Kesederhanaan ini membuat narasi politik dalam karya-karyanya jadi gampang dibaca. Misalnya, karikatur di koran. Minim simbol rumit dan dakik-dakik, semua dikerjakan dengan cara yang sederhana, nyaris elementer," jelas Agung.
Lebih lanjut, Agung menerangkan, bahwa ada dua narasi utama dalam karya yang dipamerkan Moki. Pertama, narasi pro Jokowi dengan seluruh spektrumnya, kedua ialah narasi kritik pada pembangunanisme yang dielaborasi oleh rezim Jokowi itu sendiri.
"Pada titik ini kita melihat hubungan 'benci tapi rindu' yang membedakannya dengan nafas politik anak muda hari ini yang banyak membawa narasi anti pemerintah," ujarnya.
"Moki sebagai seniman juga punya kesadaran pada politik media seni. Baginya, pilihan pada media ditentukan oleh muatan atau narasi yang dibawanya. Ia bukan identitas pejal yang tak bisa diubah," tambahnya.
Sementara itu, Moki menilai track record Jokowi selama memimpin banyak mencuri perhatian, karena kebijakannya berani dan frontal. "Dengan situasi seperti ini, banyak yang mendukung kepemimpinan Jokowi, tapi pada saat yang sama, banyak orang dan kelompok menjadi resah dengan kehadiran Jokowi," ujar Moki.
"Situasi politik semakin panas, saat Jokowi mengikuti pemilihan presiden dan Prabowo sebagai lawannya," lanjutnya.
"Keadaan ini kemudian memunculkan fenomena terbentuknya kelompok-kelompok politik yang difungsikan sebagai perlawanan ataupun aksi dukungan terhadap Jokowi atau Prabowo. Kelompok politik itu tergabung dengan kesamaan visi, misi, seperti etnis, suku, budaya, veteran, aktivis, sampai agama," tambahnya. (han)
Baca selengkapnya Tribun Jogja edisi Minggu 4 Juli 2021 halaman 06.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran-moki.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran-moki-2.jpg)