Breaking News:

Headline PSIM Yogyakarta

Taufik Hidayat Pantang Ciut Nyali Bentrok Lawan Tim Bertabur Bintang

Saya tidak ada masalah, tidak takut dengan klub-klub sultan itu, yang penting saya persiapkan diri saya semaksimal mungkin.

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
Dokumentasi PSIM Yogyakarta
Taufik Hidayat 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Taufik Hidayat menjadi rekrutan terakhir PSIM Yogyakarta pada akhir Mei 2021 lalu. Di usianya kini yang menginjak 28 tahun, Taufik cukup kenyang pengalaman membela sejumlah klub mentereng Tanah Air, semacam Arema FC, PSM Makassar, Bali United dan PSIS Semarang.

Kehadiran Taufik, digadang memperkuat lini pertahanan PSIM musim ini. Tak banyak orang tahu, kedatangannya ke Yogyakarta musim ini turut dipengaruhi Beny Wahyudi, yang juga sebelumnya sempat merumput bersama di Singo Edan, julukan Arema FC.

"Saya sempat chat dengan mas Beny, ngobrol panjang lebar soal PSIM, dari sana saya mulai tertarik," kata Taufik ditemui di Mes PSIM, Baciro, Yogyakarta, tempo hari.

Pemain bernomor punggung 26 itu mengaku, tak keberatan jika dirinya harus main di Liga 2 alih-alih pindah ke klub yang bermain di Liga 1. Menurutnya, Liga 2 musim ini bisa jadi akan sangat menarik setelah melihat persaingan antar klubnya kian memanas. Salah satu sebabnya, banyak investor yang masuk untuk berinvestasi atau mengakuisisi klub.

"Liga 2 tahun ini saya lihat rame banget, ada Rans Cilegon PSG Pati, Persis Solo, dan beberapa klub lainnya. Mereka sampai rela mendatangkan banyak pemain bagus ke klubnya, pasti persaingannya nanti bakal seru," ujar Taufik.

Dengan pengalamannya bermain di Liga 1, Taufik tak gentar melawan penyerang-penyerang ternama Liga Indonesia, atau mantan pemain Timnas sekalipun. Taufik juga tak ciut nyali mendengar klub-klub Liga 2 yang banyak disebut sebagai 'klub sultan'.

Baginya yang paling penting adalah motivasi dari diri sendiri yang akan meneguhkan mental bermainnya.
"Saya tidak ada masalah, tidak takut dengan klub-klub sultan itu, yang penting saya persiapkan diri saya semaksimal mungkin. Saya semua pemain sama saja, sama-sama makan nasi juga," katanya sambil tertawa.

Terlebih, menurut ayah dari satu anak ini PSIM memiliki juru taktik yang hebat, Seto Nurdiyantoro. Sosok pelatih yang memiliki kharisma di hadapan pemain, dan mampu mengelola tim menjadi satu kesatuan yang padu di lapangan.

"PSIM ini hebat, ada Coach Seto, dia pelatih yang cerdas, dapat menentukan taktik tepat meskipun timnya dalam tekanan. Dia banyak strateginya, banyak pilihan. Kita dari pemain juga harus siap, dan Coach Seto bisa mendorong itu," tegasnya. (tsf)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Selasa 29 Juni 2021 halaman 10.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved