Breaking News:

Human Interest Story

Pelukis Asal Magelang Wawan Geni, Melukis dengan Obat Nyamuk, Karyanya Terjual ke Penjuru Dunia

Teknik melukis yang dipakai oleh seniman asli Kauman, Desa Bondo,  Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang terbilang unik dan menarik.

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Nanda Sagita Ginting
Wawan Geni pelukis asli Magelang saat mewarnai lukisannya menggunakan obat bakar nyamuk, Kamis (24/06/2021) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Teknik melukis yang dipakai oleh seniman asli Kauman, Desa Bondo,  Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang terbilang unik dan menarik.

Pasalnya, Yuli Prasetyawan (39) alias Wawan Geni menggunakan obat nyamuk bakar untuk mewarnai hasil karyanya.

Teknik yang disebut 'Mbakar' itu, merupakan temuannya sendiri (autodidak), terinspirasi dari keisengannya saat kecil yang senang bermain dengan media api.

"Sebelum menemukan teknik ini,  saya sempat pakai jenis cat air maupun akrilik untuk lukisan. Lalu, pada 2003 mulai iseng bereksperimen dengan api, ternyata warna bekas pembakarannya cukup bagus dan kesan alaminya sangat kuat dan artistik. Dari situlah mulai beralih," jelas alumnus Seni Rupa ISI Yogyakarta itu, beberapa waktu lalu kepada Tribun Jogja.

Baca juga: Jumlah Kematian COVID-19 Indonesia Hari Ini 409 Orang, Kasus Terbanyak Nomor Dua Dunia

Proses pewarnaan menggunakan teknik Mbakar diawali dengan menggambar sketsa pada kanvas, kemudian obat nyamuk dibakar dengan kondisi menyala dan ditempelkan pada kanvas mengikuti sketsa yang ingin diberi warna.

Selain, menggunakan obat nyamuk bakar sebagai pewarna lukisannya. Puntung rokok juga dipakainya sebagai pilihan lain.

"Ya, seperti lukisan umumnya. Diberi sketsa dulu, baru diberi warna. Adapun, caranya dengan menempelkan ujung obat nyamuk yang masih menyala sembari ditiup sedikit agar lukisan tidak terbakar. Dari hasil pembakaran itulah, akan memunculkan warna kecoklatan yang khas," ujarnya.

Selama ini, karya-karya lukisan miliknya menekankan kehidupan sosial masyarakat di Jawa terutama penduduk di sekitar Candi Borobudur.

Sehingga, hampir seluruh karyanya identik dengan kegiatan para petani di sawah hingga aktivitas masyarakat. Tentunya, ditemani candi pada latar belakangnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved