Breaking News:

FEATURE

Pemuda Patakbanteng Sampah Plastik Disulap Jadi Batako Hingga BBM

Sampah plastik masih jadi masalah serius bagi lingkungan. Kondisi ini sempat dirasakan warga Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Editor: Agus Wahyu

Sampah plastik masih jadi masalah serius bagi lingkungan. Kondisi ini juga sempat dirasakan warga Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Terlebih desa itu merupakan kawasan wisata pendakian Gunung Prau. Selain sampah rumah tangga, sampah dari kegiatan pariwisata pun cukup menganggu. Sampah sampai menumpuk di Sungai Serayu hingga mengganggu usaha pertanian warga karena air tercemar.

TAPI, itu cerita dahulu. Tepatnya, sebelum warga membangun tempat pengolahan sampah sementara yang dikelola kelompok pemuda. Kini, tiap hari, beberapa pemuda berbagi tugas untuk mengambil sampah rumah tangga untuk dibawa ke tempat penampungan sementara. Di sana, sudah ada beberapa pemuda lain yang menunggu untuk memilah sampah masyarakat.

Sampah yang bernilai jual dipisahkan lalu dijual ke pengepul untuk menutup operasional pengelola. "Oleh warga, sampah dimasukkan kantong dan diletakkan di depan rumah. Nanti ada yang mengambil," kata Dani Setiawan,

Ketua Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Tunggul Wulung, Desa Patakbanteng, Sabtu (19/6/2021).
Tetapi ada yang menarik di luar kegiatan itu.

Pengelola ternyata punya target, sebisa mungkin pengolahan sampah berakhir di tempat mereka. Karena itu, mereka berusaha berinovasi untuk mengolah sampah menjadi barang bernilai guna. Mereka mengolah sampah organik menjadi pupuk untuk mendukung usaha pertanian warga.

Adapun sampah anorganik, selain dijual, mereka mengolahnya menjadi batako. Sampah-sampah plastik dipanaskan dengan suhu tertentu, lalu dicetak menggunakan alat pres. Batako berbahan limbah ini pun diklaim lebih kuat dari batako pada umumnya.

"Ini kelebihannya lebih kuat dibanding batako dari cor," katanya.

Kreativitas anak-anak muda ini tak sampai di situ. Mereka kini berinovasi untuk menyulap sampah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Mereka menggandeng Irhamto, petani Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara yang telah berhasil menciptakan alat untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar minyak.
Irhamto merakit alat itu dari bahan besi semisal drum serta botol air mineral untuk menampung minyak.

Mulanya sampah plastik dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari drum besi. Sampah itu kemudian dibakar atau dipanaskan dengan suhu tertentu. Uniknya, ia tak memakai gas elpiji untuk memanaskan, melainkan limbah oli yang didapat dari bengkel.

Ini sekaligus untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan dari limbah oli di masyarakat. Tabung tempat sampah dipanaskan itu terhubung dengan pipa besi hingga uap menjadi BBM yang mengalir ke botol mineral.

"Bahan bakarnya juga kami manfaatkan dari limbah oli. Sehingga diharapkan oli tidak terbuang yang bisa mencemari lingkungan," katanya.

Dia pun membuktikan langsung BBM dari sampah itu bisa dipakai sebagaimana bensin atau solar pada umumnya. Ia coba menuangkan BBM hasil pembakaran sampah ke tangki mesin pencacah sampah. Mesin yang biasa menggunakan solar itu pun langsung menyala dan bisa dioperasikan. Masih ada tahapan lagi atau proses penjernihan sehingga produk itu sempurna.

Dia berharap, inovasi teknologi pengolah sampah semacam ini bisa memotivasi masyarakat untuk bisa mengolah sampah di sekitar mereka. Dengan kreatifitas itu, ia berharap sampah masyarakat tidak sampai dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang kapasitasnya terbatas.

"Targetnya, sampah masyarakat bisa diolah dan selesai sampai di sini," katanya. (Tribun Banyumas/Khoirul Muzakki)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Minggu 20 Juni 2021 halaman 02.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved