Breaking News:

Ekspor Tekstil Meningkat, Tapi Pasar Lokal Terpuruk karena Digempur Produk Impor

Pasar Industri tekstil di DIY tumbuh dalam hal ekspor ke luar negeri. Namun di sisi lain, pasar lokal masih dalam keadaan terpuruk.

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Nanda Sagita Ginting
ILUSTRASI Suasana toko tekstil di jalan Urip Sumoharjo, kota Yogyakarta pada Jumat (02/10/2020) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pasar Industri tekstil di DIY tumbuh dalam hal ekspor ke luar negeri. Namun di sisi lain, pasar lokal masih dalam keadaan terpuruk.

Ketua Badan Pengurus Provinsi (BPP) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY, Iwan Susanto menyatakan bahwa industri pertekstilan DIY sudah mulai bergerak, khususnya pasar luar negeri. Pergerakan ini sudah dirasakan sejak pandemi tahun lalu.

"Untuk tahun ini pasar lokal lebih parah, tapi dengan Myanmar dan Vietnam yang lockdown, order banyak yang beralih ke kita," ujarnya Jumat (18/6/2021).  

Baca juga: Pemkab Magelang Sosialisasikan Gerakan Minum Jamu untuk Tambah Imunitas Tubuh Saat Pandemi

Peningkatan ekspor pun lebih terasa dibandingkan tahun lalu. Ia menyatakan, industri tekstil di DIY memiliki jenis yang bervariasi. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya mengerjakan merk-merk yang sudah terkenal. Ekspornya pun sebagian besar ke Amerika dan Eropa.

"Terutama untuk underwear (pakaian dalam) dalam kondisi sekarang malah bertumbuh, justru mereka menambah karyawan dan marketnya ke seluruh dunia," terangnya.

Namun demikian, pihaknya sangat mengkhawatirkan lonjakan kasus Covid-19 karena industri tekstil di DIY sudah mulai merangkak lagi usai Lebaran 2021. Terlebih untuk pasar lokal, Iwan menyatakan bahwa saat ini masih dalam kondisi terpuruk dan tengah digempur produk-produk impor.

"Pasar lokal kita digempur oleh produk impor karena semua perusahaan tekstil mencari lahan baru untuk menjual produknya. Sehingga kita berharap ada keberpihakan dari pemerintah dalam mendukung pertumbuhan industri tekstil di tanah air karena semuanya butuh market. Jangan kita malah digempur produk impor, inilah yang harus kita proteksi," ujarnya.

Ia pun berharap agar pemerintah menutup keran impor produk-produk tekstil dan semua kebijakan atau aturan bisa memudahkan usaha serta lebih peduli dengan lingkungan.

Terpisah, Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS DIY, Amirudin, menyatakan bahwa komoditas tekstil atau pakaian jadi bukan rajutan menjadi komoditas dengan nilai ekspor tertinggi pada April 2021 yakni sebesar USD 14,1 juta.

Baca juga: Obyek Wisata Pemerintah Tutup, Pelaku Usaha Kuliner di Pantai Depok Terancam Merugi

Selain itu, komoditas lain yang juga memiliki nilai ekspor tinggi adalah perabot, penerangan rumah dengan nilai USD 7,3 juta dan barang-barang rajutan senilai USD 4,4 juta.

Lebih lanjut, ia menerangkan, secara kumulatif nilai ekspor DIY pada Januari-April 2021 mencapai USD 176,5 juta atau naik 34,02 persen dibanding periode yang sama 2020.

Ekspor terbesar April 2021 dikirim ke Amerika Serikat yaitu USD 16,5 juta. Disusul Jepang sebesar USD 4,4 juta kemudian Australia sebesar USD 2,9 juta. Selama Januari-April 2021 kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 53,97 persen. (nto)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved