Breaking News:

Headline

Pemilik Warung Apung Rawa Jombor Diminta Segera Bongkar Bangunan

Sejumlah pengelola warung apung KJA) di kawasan objek wisata Rawa Jombor Klaten berharap adanya solusi terbaik sebelum pengerjaan.

Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan
Suasana sosialisasi revitalisasi Penataan Rawa Jombor di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (16/6/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM/ KLATEN, TRIBUN - Sejumlah pengelola warung apung dan keramba jaring apung (KJA) di kawasan objek wisata Rawa Jombor Klaten berharap adanya solusi terbaik sebelum pengerjaan fisik penataan kawasan tersebut. Mereka juga menginginkan adanya kejelasan penggantian biaya pembongkaran dan lokasi sementara untuk menampung material bangunan warung.

"Untuk warung apung belum setuju dengan hasil sosialisasi tadi. Kami sudah minta biaya pembongkaran, tapi tadi disebut tidak ada uangnya," ujar Samsir yang merupakan salah satu pengelola warung apung Rawa Jombor saat mengikuti sosialisasi revitalisasi kawasan Rawa Jombor di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (16/6/2021).

Samsir mengatakan jika seandainya warung apung semuanya tetap diminta untuk dibongkar, para pengelola juga bingung menaruh semua material warung tersebut di mana. "Kalau itu dibongkar itu mau dipasang di mana. Selain itu, tempat pemindahannya juga belum jelas, modelnya seperti apa dan nanti juga kayak apa. Kami minta solusi," ucapnya.

Slamet Riyadi, pengelola Keramba Jaring Apung (KJA) Rawa Jombor meminta pembongkaran KJA dilakukan setelah ikan-ikan dipanen. "Sebelumnya kami sudah berembuk dengan semua pengelola KJA di Rawa Jombor, kalau bisa ya kami biarkan panen dulu, setelah itu baru dilakukan revitalisasi," ucapnya.

Ia menjelaskan, hingga tenggat waktu akhir Juli 2021, ikan-ikan yang ada di KJA Rawa Jombor belum bisa di panen. Ikan-ikan tersebut baru akan bisa di panen sekitar tiga bulan ke depan. "Ikan itu totalnya sekitar Rp6 miliar duitnya. Itu sekitar 162 ton bibit ikan yang disebar dari semua keramba yang ada," ucapnya.

Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setda Klaten, Ronny Roekmito memahami keberatan yang dirasakan oleh warga tersebut. "Kalau keberatan pastinya, sebenarnya ini sudah lama diberitahukan kepada kepala desa Krakitan karena ini bersangkutan dengan faktor ekonomi, namun akan ada rembukan lagi untuk peluangnya bagaimana," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Sinung Nugroho Rachmadi meminta pengelola warung apung berisiatif membongkar bangunan secara mandiri sebelum dimulai pengerjaan fisik. "Kontruksi fisik butuh pengosongan area Rawa Jombor dalam hal ini warung apung," ujar Sinung.
Sinung menjelaskan, pengerjaan fisik objek wisata Rawa Jombor tahap pertama itu ditarget selesai pada 20 Desember 2021.

"Semoga dengan dukungan kami bisa memperindah dan mempercantik Rawa Jombor, selain itu juga bisa menjadi pilar destinasi wisata di Klaten di masa yang akan datang," jelasnya.

Bupati Klaten Sri Mulyani, mengatakan penghentian seluruh aktivitas di Rawa Jombor saat dimulainya pengerjaan fisik penataan rawa tersebut agar mempercepat proses penataan. "Nanti pihak BBWSBS (Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo) akan menyampaikan secara rincinya. Pembangunan ini kan secara bertahap," katanya. (mur/tribunjogja)

 Selengkapnya baca Harian Tribun Jogja edisi Kamis (17 Juni 2021) halaman 04.

Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved