Breaking News:

Headline

Mayoritas Korban Bunuh Diri di Gunungkidul Adalah Perempuan dan Lansia

Angka kasus bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul terus meningkat, hingga pertengahan 2021 ini.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Agus Wahyu
Istimewa
Aparat saat melakukan olah TKP di rumah salah satu korban aksi bunuh diri di Kapanewon Semin, Gunungkidul, Senin (14/06/2021) lalu. 

GUNUNGKIDUL, TRIBUN - Kasubbag Humas Polres Gunungkidul, Iptu Suryanto menyampaikan sejak Januari hingga Juni 2021 ini tercatat ada 22 kasus bunuh diri. "Terakhir terjadi pada Senin (14/6) lalu di wilayah Kapanewon Semin," katanya, Kamis (17/6/2021).

Korban, perempuan berusia 56 tahun, ditemukan pada sore hari oleh saudara dan tetangganya. Mereka menemukan jasadnya setelah mendobrak pintu rumah, karena curiga kondisi rumah masih gelap meski hari mulai malam.

Menurut Suryanto, pada tahun lalu pihaknya mencatat sebanyak 29 kasus bunuh diri yang dilaporkan. "Sebagian besar korbannya perempuan, dan rata-rata lanjut usia (lansia)," katanya.

Merujuk data yang ada, Suryanto mengatakan latar penyebabnya beragam. Namun, paling banyak karena penyakit menahun yang diderita warga lansia, sisanya karena motif ekonomi.

Pihaknya pun rutin melakukan pendataan kasus bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul. Ia memastikan seluruh kejadian pasti tercatat dan dirangkum menjadi data terpadu.

"Data itu kemudian kami serahkan ke pimpinan serta pemerintah kabupaten untuk tindak lanjutnya," jelas Suryanto.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul di bawah komando Bupati Sunaryanta kini juga berupaya untuk menekan angka bunuh diri. Kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dilakukan untuk mengkaji fenomena tersebut. Kendati demikian, Sunaryanta mengakui fenomena bunuh diri bukan perkara yang mudah untuk ditangani. Pihaknya pun juga harus berhadapan dengan fenomena lain seperti pernikahan dini dan perceraian.

Multifaktor
Wage Dhaksinarga, relawan dari Inti Mata Jiwa (IMAJI), organisasi sosial yang peduli terhadap masalah kesehatan jiwa, mengakui bahwa upaya menekan angka kasus bunuh diri di Gunungkidul masih sulit dilakukan.

"Bunuh diri ini kan penyebabnya multifaktor, jadi agak sulit menentukan indikator yang jelas untuk penanganannya," jelas Wage saat dihubungi.

Tak hanya dari latar belakang penyebab, ia juga menyebut kondisi geografis Gunungkidul yang luas juga menyulitkan penanganan. Butuh anggaran yang tak sedikit untuk prosesnya.

Wage mengatakan pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan Bupati Gunungkidul, Sunaryanta, untuk membahas penanganan bunuh diri. Menurutnya, Sunaryanta saat itu juga mengakui adanya kesulitan. "Kesulitan karena anggaran yang tak bisa maksimal, ditambah cakupan wilayah yang luas," jelasnya.

Pun begitu, Wage menyebut Bupati sudah melempar wacana membuat proyek percontohan untuk penanganan bunuh diri dan kesehatan jiwa. Namun, ia tak mengetahui sejauh mana proyek itu kini berjalan. Pada satu sisi, ia mengaku senang dengan upaya Bupati saat ini dalam penanganan kasus bunuh diri. Namun, menurutnya diperlukan keseriusan yang lebih jika ingin penanganan bisa berjalan.

"Perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan, termasuk menyentuh langsung ke warga yang rawan melakukan aksi bunuh diri," kata Wage.

Pihaknya pun masih mengkaji fenomena bunuh diri yang masih terus berlangsung. Meski demikian, ia mengakui ada tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. (alx)

Selengkapnya baca Tribun Jogja Jumat 18 Juni 2021 halaman 04.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved