Breaking News:

Headline

Harus Minta Masyarakat Lebih Bijak Bermain Kripto, Perlu Pahami Dinamika Pasar, Aset, dan Risikonya

Mata uang kripto adalah aset investasi yang masih berumur muda dibandingkan dengan berbagai aset lainnya, semisal saham, obligasi, properti.

Penulis: Santo Ari | Editor: Agus Wahyu
istimewa
Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi Webinar saat menghadiri Kompas Talks dengan tema 'Mengelola Demam Aset Kripto-Perlindungan Investor di Perdagangan Aset Kripto’. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mata uang kripto adalah aset investasi yang masih berumur muda dibandingkan dengan berbagai aset lainnya seperti saham, obligasi, properti, dan lain-lain. Namun, pertumbuhan minat masyarakat untuk berinvestasi di perdagangan aset kripto terus melambung.
Platform perdagangan mata uang kripto terus bermunculan. Dana triliunan rupiah pun masuk ke pasar mata uang kripto di tengah kelesuan sejumlah investasi. Merespons hal tersebut, Harian Kompas bersama Kementerian Perdagangan menyelenggarakan webinar Kompas Talks dengan tema 'Mengelola Demam Aset Kripto-Perlindungan Investor di Perdagangan Aset Kripto’. Diskusi dilakukan secara hybrid conference, yaitu virtual dan offline, yang diselenggarakan Kamis (17/6).
Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi saat membuka diskusi tersebut menyatakan perdagangan ekonomi digital akan mengalami pertumbuhan. Dari data yang dimiliki, perdagangan ekonomi digital pada tahun 2020 mencapai Rp632 triliun dan diperkirakan tumbuh sekitar delapan kali lipat menjadi Rp4.531 triliun ke depannya.
"Oleh sebab itu, peran perdagangan dalam ekonomi digital menjadi sangat penting dan mesti kita atur. Aset kripto akan jadi sangat penting, karena akan menjadi buah bagian dari hilirisasi ekonomi digital," ujarnya.
Kementerian Perdagangan melihat, pertumbuhan ekonomi kripto ini sangat tinggi. Dapat dilihat dari jumlah pemain pada 2020 ada sekitar 4 juta orang. Dalam hitungan bulan, yakni pada Mei 2021, pemain di aset kripto tercatat sudah tumbuh lebih dari 50 persen menjadi 6,5 juta orang.
Adapun jumlah transaksi perdagangan di tahun 2020 mencapai Rp65 triliun dan terus tumbuh. Pada Mei 2021, transaksinya tercatat tumbuh lima kali lipat menjadi menjadi Rp370 triliun.
Dengan kondisi ini, ia menilai bahwa sebenarnya mata uang kripto ini tidak ada bedanya dengan mata uang kertas ketika pertama kali diperkenalkan. Ia mengatakan bahwa aset kripto juga memiliki empat hal yang penting, yaitu untuk transaksi, mining, investasi dan juga perdagangannya.
Perbaikan aturan
Lutfi mengakui bahwa di dunia perekonomian digital, dinamika kripto mengalami naik turun. Ia menceritakan, ketika terjadi fluktuasi value aset kripto di Jepang, masyarakat di sana merasa tidak terganggu sama sekali. Pasalnya, setiap orang yang bertransaksi di aset kripto telah memahami dinamika market, aset yang diperdagangkan, dan risiko yang akan terjadi.
"Artinya bisa untung, dan banyak orang yang merasa merugi. Maka dari itu, kita mesti sama-sama mengetahui apa yang kita lakukan sebelum kita bertransaksi. Dan Kementerian Perdagangan harus mengatur ini dengan baik. Kami akan perbaiki peraturan-peraturan untuk menjamin keamanan, kerahasiaan, menjamin pada transaksi itu,"ungkapnya.
Ia menekankan bahwa di dalam satu perdagangan harus ada keadilan dan bermanfaat baik kepada penjual maupun kepada pembeli. "Jadi dasar perdagangan ini akan kita terapkan, dan kita akan jabarkan dalam satu aturan agar kita semua sama-sama menjadi bangsa yang bisa menikmati, mendapatkan keleluasaan untuk menguasai aset kripto tersebut," tandasnya.
Tri Agung Kristanto, Redaktur Pelaksana Harian Kompas, menyatakan bahwa kripto memang bisa dikelola dengan baik, dan Kompas mencoba menangkap fenomena ini untuk kemudian disajikan dalam satu laporan untuk mendorong masyarakat belajar tentang kripto. "Mata uang kripto masih penuh dengan perdebatan, dan dinamika naik turun cepat sekali dan banyak sekali pilihannya sekarang. Harapannya masyarakat semakin paham, melakukan langkah yang bijak dalam pengelolaan aset kripto," ujarnya. (nto/ord)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved