Breaking News:

Cegah Stunting, Program Bayi Hebat di Bantul Memanfaatkan Kearifan Lokal

BKKBN telah meluncurkan program Bayi Hebat untuk menekan angka stunting (gangguan pertumbuhan anak) secara nasional.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Agus Wahyu
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
CEGAH STUNTING - Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo (kiri) dalam pencanangan program Bayi Hebat di Padukuhan Bekelan, Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Bantul, Senin (14/6/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah meluncurkan program Bayi Hebat untuk menekan angka stunting (gangguan pertumbuhan anak) secara nasional.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan angka stunting nasional cenderung meningkat, terutama selama pandemi Covid-19. Tahun 2019, angka stunting nasional adalah 27,67 persen. "Itu angka resmi, dengan catatan saat pandemi stunting naik. Para ahli memprediksi tahun 2020 angka stunting bisa naik sampai 32,5 persen," katanya saat mencanangkan program Bayi Hebat di Padukuhan Bekelan, Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Bantul, Senin (14/6/2021).

Ia melanjutkan bayi hebat adalah sebuah program agar bayi tumbuh sehat dan tidak stunting. Caranya dengan memantau 1.000 hari pertama kehidupan. Pihaknya telah mencanangkan 1.000 mitra untuk 1.000 hari pertama kehidupan.

Pada program tersebut, BKKBN menggandeng berbagai pihak, khususnya swasta hingga Non-Government Organization (NGO) dalam negeri maupun mancanegara. "Kalau BKKBN diminta untuk mengatasi stunting, kami ingin semua ibu hamil didampingi PKK, kader, dan bidan. Ada lima juta ibu hamil per tahun," lanjutnya.

Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting BKKBN DIY, Yuni Hastuti di Padukuhan Bekelan ada 18 keluarga yang menjadi pilot project 1.000 hari pertama kehidupan. Ia menyebut, pihaknya akan mendampingi ibu hamil dari keluarga miskin hingga bayi berusia 2 tahun.

Menurut dia, bayi dari keluarga dengan ekonomi rendah rentan stunting. Pihaknya juga akan memberikan makanan tambahan setiap bulan selama masa kehamilan.

"Kami manfaatkan kearifan lokal, contohnya setiap minggu kami berikan susu kedelai, karena di Padukuhan Bekelan ada warga yang membuat susu kedelai. Produk makanan lain juga kami beli dari masyarakat, tidak di toko besar," tutupnya. (maw)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Selasa (15 Juni 2021) halaman 08.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved