Breaking News:

Feature

Inilah Karya Indah Siswa SLB Negeri 1 Yogyakarta di Pameran Meretas Keterbatasan

Siapapun bisa menghasilkan karya seni, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Yogyakarta.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/ Ardhike Indah
Sebagian karya siswa SLB Negeri 1 Yogyakarta yang dipamerkan di Pendopo Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Jumat (11/6/2021) 

DALAM pameran ‘Meretas Keterbatasan’ yang dilaksanakan di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY, pengunjung bisa melihat bagaimana keindahan karya buatan tangan ABK juga bisa dinikmati. “Ini sebenarnya tugas dari guru. Selama pandemi ini, kami tetap berikan tugas daring dan luring,” ungkap Ratih Artika Dewanti SSn, Ketua Panitia Pameran ’Meretas Keterbatasan’ kepada Tribun Jogja, Jumat (11/6/2021).

Dia menjelaskan, untuk tugas luring, pihak sekolah sudah menyiapkan bahan yang nantinya bisa diambil di pos satpam oleh para orang tua. Selebihnya, guru akan memandu orang tua dan siswa lewat video tutorial yang dibagikan di grup kelas.

“Dari hasil anak-anak ini, kami jadi berpikir, kenapa tidak dipamerkan sekalian. Kalau hanya dipamerkan di sekolah, yang mengapresiasi nanti hanya guru-gurunya,” ucap Ratih lagi.

Menurut Ratih, orang lain juga perlu tahu bahwa karya ABK ini luar biasa dan bisa setara dengan anak umum di luar sana. “Banyak orang yang mengapresiasi pameran ini. Mereka kaget ternyata karya mereka bagus-bagus,” tambahnya.

Sebagian besar karya 106 siswa SLB Negeri 1 Yogyakarta berbentuk batik dan gambar, meski ada juga yang benar-benar membuat kerajinan tangan seperti tempat file dan lilin. Para siswa diminta untuk mencanting pola yang sudah ada di kain dengan malam-malam yang sudah cair.

Kemudian, mereka akan mengembalikan kain-kain itu kepada para guru untuk dilorot lantaran mereka tidak dibekali panci dan kompor besar. “Maka dari itu, pameran ini kami namakan ‘Meretas Keterbatasan’, karena sebagian siswa kami merupakan siswa tuna grahita dan terbatas karena pandemi juga. Setahun ini kan selalu pembelajaran daring,” tuturnya.

Ratih melanjutkan, meski siswa terbatas, namun mereka bisa melahirkan karya-karya yang di luar dugaan. Rata-rata, para siswa mampu menyelesaikan tugas itu lebih cepat, hanya beberapa minggu.

Padahal, kalau di sekolah, belum tentu mereka bisa selesaikan secepat itu. “Mungkin karena mereka di rumah kali ya, jadi tidak tahu mau ngapain, makanya menggarap tugas saja,” kata Ratih menduga.

Untuk tugas selain membatik, ada juga yang menyerahkan karya menggambar. Gambarannya pun tampak menyenangkan, seolah-olah mereka menaruh keceriaan diatas selembar kertas.

Ada yang hanya mencoret-coret warna saja, ada juga yang sudah membuat pola. Semua ditata rapi oleh para guru, dibingkai dan diberi keterangan, layaknya pameran pada umumnya.

Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Yogyakarta, Sri Muji Rahayu, adanya tugas seperti ini bisa mendekatkan orang tua dan murid. Selama masa penugasan, orang tua bakal mendampingi agar tugas itu bisa terselesaikan dengan baik.

“Orang tua juga jadi penasaran kan, ini buatnya bagaimana, akhirnya ikut membantu,” katanya di pameran. (Ardike Indah)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Minggu (13 Juni 2021) halaman 03.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved