Breaking News:

Feature

Menengok Tukang Patri, Profesi yang Kian Tergusur Kemajuan Zaman

Jasa reparasi panci atau seringkali disebut tukang patri nyaris menghilang dan sulit ditemui di kota besar, tak terkecuali di Kota Yogyakarta.

TRIBUNJOGJA/ Miftahul Huda
Kesibukan Ipung saat meratakan panci yang rusak menggunakan pemukul kayu, Jumat (11/6/2021) 

Jasa reparasi panci atau seringkali disebut tukang patri nyaris menghilang dan sulit ditemui di kota besar, tak terkecuali di Kota Yogyakarta. Salah satu ahli reparasi panci yang tersisa yakni Puji Purnomo. Dia masih konsisten menekuni pekerjaan tersebut.

Ketika ditemui Tribun Jogja, pria yang akrab disapa Ipung ini sudah terlihat berkeringat, padahal waktu saat itu masih menunjukan pukul 09.15 WIB. Maklum saja, setiap harinya ia harus memukulkan ratusan kali martil dari tangan kanannya. Jika tidak demikian, panci-panci yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki.

Untuk mereparasi panci yang sudah rusak, pria 35 tahun itu harus membongkar penampang panci menggunakan martil dan perkakas lainnya. Tak jarang ia seringkali digoda oleh pedagang pasar yang kebetulan melintas di dekat bengkel reparasi panci miliknya.

"Kalau enggak ngamuk enggak dapat duit. Wah ini, sudah mulai motong-motong duit. Sering orang sini bercanda kayak gitu. Potongan duit yang dimaksud itu, ya, karena saya kadang potong pelat untuk penampang, itu kan lumayan mahal," katanya membuka obrolan.

Suara yang dihasilkan dari proses reparasi panci itu memang nyaring 'dok, dok, dok' kira-kira seperti itu. Tak jarang karena hal itulah ia menjadi pusat perhatian orang sekitar. Sesekali Ipung meletakkan martil mentahnya itu untuk membetulkan kaca mata minusnya.

Dia sangat berhati-hati dalam mereparasi panci-panci itu. Peralatannya pun cukup lengkap. Terlihat tangannya begitu cekatan mengukur diameter panci yang sedang ia kerjakan. "Sehari ini bisa sepuluh panci kelar. Ya, tergantung orderan sih. Kadang, ya, sepi, kalau pas ramai sehari bisa sepuluh panci," katanya.

Warga Kampung Terban ini mengaku sudah tujuh tahun menggeluti pekerjaan mereparasi panci itu. Namun, bengkel yang saat ini ia huni rupanya sudah ada sejak tahun 1980.

"Bengkel ini warisan bapak saya. Sudah ada sejak 1980-an. Saya hanya meneruskan, kira-kira sudah tujuh tahun saya di sini. Eman (sayang) kalau enggak diteruskan," tutur pria dua anak ini.

Ipung kini sudah memiliki pelanggan tetap yang setia yakni mulai dari masyarakat umum, pengusaha warung makan hingga pemilik restoran. "Mereka langganan saya di sini. Ya, orang biasa sampai pengusaha restoran di Jogja datang ke sini," jelasnya.

Tarif sekali reparasi panci yang dikerjakan bervariasi. Ipung mempertimbangkan tingkat kerusakan dan pemilihan bahan. Jika rusak terlalu parah dan harus diganti bahan dengan pelat alumunium atau pelat stenlis maka biaya yang dikeluarkan sedikit mahal.

"Ya, kisaran Rp10 ribu rupiah sampai Rp100 ribu rupiah biayanya. Tergantung kerusakan, ganti pelat atau tidak," terang Ipung.

Awal belajar
Bengkel miliknya itu buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00. Ipung mulai belajar mereparasi panci itu sejak dirinya berusia 22 tahun. Awal pertama kali belajar ia sedikit kesulitan.

Namun demikian, seiring berjalannya waktu ia terlihat mahir dan kini memiliki banyak pelanggan yang memakai jasanya. "Dulu motong pelatnya itu terlalu melebar. Sekarang, ya, sudah enggak. Ya, butuh proses," ucap dia. (Miftahul Huda)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Sabtu (12 Juni 2021) halaman 01.

kepsen:
TRIBUN JOGJA/MIFTAHUL HUDA
REPARASI - Ipung sedang mereparasi panci pelanggannya saat ditemui Tribun Jogja, Jumat (11/6).

Penulis: Miftahul Huda
Editor: Agus Wahyu
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved