Breaking News:

Cara Mengenali Berita Hoax Menurut Diskominfo DIY

Sejak masa awal pandemi Covid-19 hingga saat ini, telah ditemui lebih dari 1.600 berita bohong atau hoax terkait Covid-19 yang tersebar di dunia maya.

ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejak masa awal pandemi Covid-19 hingga saat ini, telah ditemui lebih dari 1.600 berita bohong atau hoax terkait Covid-19 yang tersebar di dunia maya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY rutin melakukan penyaringan dan mengklarifikasi informasi hoax.

"Kalau ada info-info mencurigakan, kita sudah kerja sama dengan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah) dan Polda DIY untuk mengklarifikasi. Kalau sifatnya nasional kita ke Kominfo, kalau lokal melalui teman-teman penggiat sosial yang ada di medsos," terang Kepala Diskominfo DIY Rony Primanto Hari, Jumat (11/6/2021).

Baca juga: Dinkes Kulon Progo Terima Laporan KIPI Pasca Divaksin AstraZeneca

Klarifikasi berita hoax akan diunggah melalui media sosial milik Diskominfo DIY serta admin media sosial yang bermitra dengan pihaknya.

Masyarakat pun diminta untuk turut aktif melakukan pelaporan jika menemui berita yang terindikasi hoax.

Beragam kanal aduan pun telah tersedia. Meliputi website Kominfo, Badan Siber dan Sandi Negara, hingga Turn Back Hoax yang diinisiasi oleh Mafindo.

Masyarakat juga bisa melapor langsung ke Instagram milik Diskominfo DIY bernama @kominfodiy.

"Masyarakat harus waspada dan hati-hati, harus tahu sumber beritanya dari mana," tandasnya.

Mengidentifikasi berita hoax bukanlah perkara sulit. Sebab ada sejumlah ciri-ciri yang hampir ditemui pada setiap informasi hoax.

Baca juga: Klaster Keluarga di Plosokuning V Tambah Jadi 34, Satu RT Dikuncitara Mikro 10 Hari

Pertama, pada bagian akhir berita, pembuat kabar hoax selalu menyisipkan permintaan dan ajakan untuk menyebarluaskan informasi. Misalnya dengan mencantumkan kata sebarkan dan viralkan.

Kedua, judul berita biasanya dibuat bombastis dan profokatif untuk menarik minat pembaca. Padahal sang pembuat berita hanya bermaksud mencari keuntungan dari pemberitaan bohong tersebut.

"Memang dibuat pemberita agar dibaca diklik dan dapat keuntungan tertentu. Jadi dia akan mendapat iklan dari klik yang banyak," paparnya. (tro)

Penulis: Yuwantoro Winduajie
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved