Breaking News:

Feature

Dari Industri Rumahan Terbang ke Negeri Sakura, Perajin Kotagede Bangkit di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat sejumlah perajin perhiasan melewati perjalanan terjal. Bahkan, banyak di antaranya terpaksa gulung tikar.

Tribun Jogja/Azka Ramadhan
BEKERJA - Burhanudin, pemilik Nur Silver saat dijumpai di kediamannya di Kotagede, Kota Yogyakarta, Rabu (10/6/2021). 

Pandemi Covid-19 membuat sejumlah perajin perhiasan melewati perjalanan terjal. Bahkan, banyak di antaranya terpaksa gulung tikar lantaran situasi ini.

SIANG hari, Burhanudin tampak tekun mengolah perhiasan di ruang kerjanya yang tidak terlalu luas. Berstatus home industri, Nur Silver yang dikelolanya bersama sang istri, Nurmiyati, memang hanya memanfaatkan kediaman sebagai 'pabriknya'.

Lokasinya berada di sentra perak Kota Yogyakarta, di area Kotagede. Tetapi, berbeda dengan pertokoan megah yang berjajar, untuk menyambangi Nur Silver, pengunjung harus berjalan menyusuri gang kecil perkampungan.

Hanya saja, pencapaiannya sejauh ini tak bisa disepelekan. Burhanudin mengisahkan, meski hanya berstatus industri rumahan, dirinya mampu menghasilkan omzet Rp50-100 juta dalam satu bulan.

Keunggulan Nur Silver adalah perhiasan custom, yang dapat dipesan sesuai selera, dengan bahan baku mulai emas, berlian, atau paladium. "Kustomer kami kalo di Indonesia sudah cukup merata, ya, sampai Papua juga. Terus, belum lama ini, kita juga kirim ke Jepang, kemudian Malaysia juga," terangnya.

Namun, pandemi melanda dan membuat keadaan berubah. Cabang di bilangan XT Square pun terpaksa gulung tikar. Segala upaya dilakukannya untuk bertahan hidup, karena usahanya otomatis tidak dapat berjalan karena tidak ada pelanggan yang berminat memesan perhiasan di tengah pandemi. Alhasil, sang istri pun ambil alih kemudi dan memutuskan berdagang ayam dan bumbon.

"Kita ganti profesi, jualan ayam kampung, kita posting, ya, ada dua, atau tiga bulan itu, terpaksa jualam ayam, dan bumbu dapur," terang sang istri, Nurmiyati.

Burhanudin pun tidak tinggal diam, ia akhirnya menekuni bisnis penjualan limbah emas. Yakni, cairan mengandung emas yang menempel pada sampah dari sisa pembuatan perhiasan selama ini.

Menurutnya, jikalau itu ditekuni, hasilnya cukup untuk menyambung hidup. "Sebelumnya juga sudah biasa kita menjual limbah itu, ya, karena memang limbahnya sengaja kita simpan sampai banyak, biar nilainya juga tinggi. Kemarin, pernah laku sampai Rp5 juta juga, tapi itu lama," ujarnya.

Beruntung, memasuki kisaran Mei 2020 angin segar mulai berpihak padanya. Terlebih, ia jenuh pada profesi yang bisa dibilang tak sesuai passion. Praktis, meski tidak memiliki toko, Burhanudin gencar memanfaatkan media sosial, maupun marketplace untuk ajang promosi.

Hanya saja, lantaran masih situasi pandemi, ia menyadari, kustomer harus berpikir dua kali untuk membeli produk-produk yang dibanderol mahal. Oleh sebab itu, dirinya memutuskan banting harga demi eksitensi.

"Kita coba sesuaikan, harga Rp350 ribu kita wujudkan lah, sekalian membantu. Kebanyakan cincin kawin itu, tapi yang minimalis. Dulu, padahal minimal kita harga Rp750 ribu, sudah tidak apa-apa, asal jalan," kisahnya

Perlahan, perajin binaan Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Yogyakarta itu menemui kebangkitan. Bahkan, Nur Silver malah semakin mantap menekuni promosi via medsos dan marketplace.

"Kalau sebelum pandemi dulu kita bisa menerima 5-10 order setiap bulan, di antaranya ada yang pesan perhiasan seharga Rp10-15 juta. Sekarang sudah mendekati, sudah ada yang berani custom di atas Rp5 juta," katanya. (Azka Ramadhan)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Jumat (11 Juni 2021) halaman 05.

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Agus Wahyu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved