Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif : Penanganan Pertama Cedera Saat Berolahraga ala Fisioterapis PSS Sleman

Penanganan pertama cedera saat berolahraga menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan apabila tak ingin cedera menjadi berkelanjutan.

Dokumentasi PSS Sleman
Fisioterapis PSS Sleman, Lutfinanda Amary. 

Nah karena kebetulan juga hobi sepakbola, saya melihat ada sebuah profesi yang keren. Bukan pelatih, bukan pemain, tapi selalu ikut serta dalam tim. Ketika itu belum tahu spesifik profesi fisioterapis, karena yang ada di kepala saat itu, tim medis dalam tim itu dokter.

3. Apa sih tugas spesifik seorang fisioterapis dalam tim?

Tugas fisioterapis di masa preseason seperti sekarang ini ialah mengecek kondisi fisik pemain setelah masa libur. Kalau untuk pemain yang dipertahankan, tentu saja kami masih punya datanya.

Tetapi yang paling menantang ialah pemain yang baru ditransfer (bergabung dengan tim), berupa data penunjang medis. Itu yang terkadang miss, si pelatih sudah naksir banget dengan kemampuan si pemain, minta buru-buru dikontrak, tetapi ternyata kondisinya rentan cedera atau cedera yang belum pulih.

Hal-hal seperti ini yang dulu kacau sekali saya rasakan ketika mengawali karier di sepak bola. Paradigmanya, cara mainnya sesuai konsep tim, pelatih suka dengan si pemain, tetapi data medis ternyata hanya sekadar formalitas.

Tetapi, sepakbola Indonesia sudah maju step by step. Meski belum bisa disejajarkan dengan negara maju lainnya seperti Jerman.

Sekarang data medis sangat digunakan, baik data cedera hingga organ-organ vital seperti tes darah, urin, sebab itu berkaitan dengan performa si pemain ketika berlatih dan bertanding. Ini lah pentingnya pemeriksaan di preseason, baik untuk pemain lama yang dipertahankan atau pemain baru yang bergabung.

4. Bagaimana peran fisioterapis ketika ada pemain yang mengalami cedera di lapangan?

Ada beberapa paradigma yang harus diluruskan. Misal ketika pertandingan, fisioterapis cuma bawa es dan semprotan painkiller. Padahal yang sebenarnya di lapangan itu cuma 15 persen dari tugas keseluruhan fisioterapis, sebab repotnya itu ketika road to match, sebelum pertandingan sampai menjelang pertandingan.

Nah kalau pas pertandingan, sebenarnya kita lebih ke manajemen emergency cedera dari ujung kuku kaki sampai ujung kepala, untuk mengantisipasi kejadian-kejadian berisiko dalam sebuah pertandingan.

5. Kalau bicara soal cedera dalam olahraga, apakah bisa diminimalisir?

Jawaban saya, itu sangat bisa diminimalisir. Saya kasih contoh, misal penyakit stroke. Itu bukan penyakit yang timbul secara tiba-tiba, melainkan ada sesuatu yang memantik terjadinya stroke misal diabetes, hipertensi, atau kolesterol. Nah faktor risiko menuju stroke ini yang harus kita kontrol.

Demikian pula dengan cedera. Cedera berarti ada kerusakan di struktur tubuh kita, bisa di tulang, sendi, otot, tendon, ligamen, meniskus, dan banyak macamnya. Faktor yang mempengaruhi misal persiapan yang kurang baik, yaitu pemanasan.

Tak kalah penting, ialah begadang sebelum melakukan aktivitas olahraga di hari berikutnya. Sebab suplai oksigen ke otak tidak sebaik biasanya, sehingga menyebabkan kantuk, dan kurangnya konsentrasi.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved