Breaking News:

Fluktuatif, Kasus COVID-19 di Bantul Didominasi Pralansia

Pemerintah Kabupaten Bantul masih berupaya untuk menekan kasus COVID-19 di Kabupaten Bantul. Termasuk dengan memprioritaskan penanganan

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Kurniatul Hidayah
dok.istimewa
Ilustrasi Covid-19 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten Bantul masih berupaya untuk menekan kasus COVID-19 di Kabupaten Bantul. Termasuk dengan memprioritaskan penanganan COVID-19 di tujuh kapanewon. 

Tujuh kapanewon tersebut ialah Kasihan, Pandak, Sewon, Banguntapan, Jetis, Imogiri, dan Sedayu.

Alasan kapanewon tersebut menjadi prioritas adalah karena jumlah pasien COVID-19 di masing-masing kapanewon tinggi.

Baca juga: Ada Lonjakan Kasus Covid-19, Disdikbud Kota Magelang Berhentikan Sementara Uji Coba PTM

Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul, Sri Wahyu Joko Santosa mengatakan kasus COVID-19 di Kabupaten Bantul masih fluktuatif, meski sempat mengalami penurunan.

Ia menduga libur setelah lebaran menjadi penyebab tingginya kasus COVID-19 di Kabupaten Bantul.

"Kalau perhitungan kami benar, nanti kasus akan menurun lagi. Kemarin sempat ada penurunan kasus selama tiga hari berturut-turut," katanya, Rabu (09/06/2021).

Ia menerangkan kasus COVID-19 di Kabupaten Bantul selama ini dialami oleh warga Bantul yang berusia 30 hingga 60 tahun.

Namun jika dilihat lebih mendalam, usia 50 sampai 60 adalah usia yang paling banyak terpapar COVID-19.

Menurut dia, pralansia (usia 50-60 tahun) mengalami penurunan kekebalan tubuh. Namun aktivitas pralansia masih tinggi dan aktif berinteraksi dengan banyak orang. 

Baca juga: UPDATE Covid-19 DI Yogyakarta 9 Juni 2021: Bertambah 304 Kasus, 7 Pasien Dilaporkan Meninggal

"Kalau di Bantul paling banyak masuk pra lansia. Masuknya ya yang paling tinggi. Ada beberapa faktor, kondisi fisiknya sudah menurun, dan mungkin pada saat itu kekebalan tubuhnya sedang tidak baik. Kemudian masih aktif berinteraksi dengan banyak orang," terangnya. 

Namun jika dilihat dari angka kematian, Oki menyebut paling tinggi terjadi pada lansia yang berumur 60 tahun ke atas.

Hal itu terjadi karena lansia biasanya memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

"Untuk kasus kematian yang paling tinggi 60 tahun ke atas. Karena sudah memiliki penyakit penyerta," lanjutnya.

Dengan masih tingginya potensi penularan COVID-19 di Kabupaten Bantul, ia meminta masyarakat untuk selalu menaati protokol kesehatan. Protokol kesehatan adalah salah satu pencegahan penularan COVID-19. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved