Breaking News:

Feature

Mengenal Sartono, Pematung Tunanetra Asal Klaten Yang Berkarya Dengan Cara Meraba

Imajinasi pematung tunanetra, Sartono, melalui kedua tangannya tetap mampu membuat sejumlah patung yang menarik.

Penulis: Almurfi Syofyan
Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan
Sartono saat membuat patung di rumahnya yang berada di Dukuh Sekalekan, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (7/6/2021). 

Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi Sartono (58) warga RT 1 RW 5, Dukuh Sekalekan, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah untuk tetap berkarya. Meski pria kelahiran 1963 itu kehilangan indera penglihatan, namun imajinasi Sartono melalui kedua tangannya tetap mampu membuat sejumlah patung yang menarik.

BEBERAPA patung yang dibuat Sartono yakni, patung tentara, patung pemain sepak bola, patung burung, hingga patung para tokoh-tokoh pejuang Indonesia. Sebelum berkecimpung di dunia patung-mematung, saat kecil ia lebih suka menggambar.
Ia juga dikenal oleh teman-teman seangkatannya di sekolah jago dalam menggambar berbagai bentuk benda, pemandangan, atau bahkan orang. "Dulunya saya suka menggambar dan senang saja dengan menggambar," ujarnya saat ditemui Tribun Jogja di rumahnya, Senin (7/6).
Namun keahliannya menggambar pupus setelah kehilangan penglihatan. Ia bercerita, awal mula kehilangan penglihatan karena saat usia sekitar 3 tahun, Sartono pernah terjatuh dari ketinggian sekitar 1,5 meter. Saat itu, Sartono sedang bermain dengan saudaranya. "Dan gigi saya patah, tapi ternyata ada efeknya, lama-kelamaaan penglihataan saya menurun," ucapnya.
Selepas kejadian itu, penglihatan Sartono kian memudar dari waktu ke waktu hingga akhirnya ia benar-benar harus kehilangan penglihatannya. Terakhir kali Sartono bisa melihat secara sempurna ketika masih duduk dibangku kelas VI SD.
Beberapa waktu berlalu, lanjut Sartono, akhirnya ada seorang tetangganya yang bekerja sebagai pembuat patung. Kemudian, ia meminta izin kepada tetangganya itu untuk diajarkan membuat patung meski dengan keterbatasan penglihatan. "Bapak itu bersedia," jelasnya.
Untuk membuat patung dirinya perlu meraba contoh patung yang akan dia buat. Adapun patung yang ia buat berbahan dasar kertas koran bekas, kertas semen bekas, dan jenis kertas lainnya. "Tapi kalau untuk wajah saya belum bisa terlalu detail. Itu sesuai dengan apa yang saya raba," tuturnya.
Tetap semangat
Meski penglihatannya terbatas, Sartono tetap semangat dalam membuat patung dan terus berkarya. Bahkan ia meminta masukan dan kritikan juga dari keluarganya jika membuat patung-patung tersebut. Untuk membuat satu patung ukuran besar, Sartono bisa menghabiskan waktu 20 hingga 30 hari.
Selama membuat patung ia juga dibantu oleh keponakannya untuk memilih warna dan hal-hal teknis lainnya. Disinggung terkait peminat patungnya, Sartono menyebut jika di Klaten sudah banyak karyanya yang dibeli oleh masyarakat.
Sartono mengisahkan, satu unit patung pada awalnya dijual sebesar Rp250 ribu. Namun seiring berjalannya waktu akibat kenaikan sejumlah bahan baku, saat ini ia mematok harga mulai Rp400 ribu.
Sejatinya, ia tidak berniat untuk menjual patung-patung yang dibikin tersebut. Patung-patung yang dibuat tersebut sebenarnya hanya untuk koleksi pribadi. Sebab ia merasa hasil karyanya tidak layak untuk dijual. Namun semua itu berubah setelah 12 tahun yang lalu di mana hasil karyanya dibeli oleh seseorang. "Setelah itu akhirnya saya mulai memberanikan diri untuk menjual hasil karya saya ini," tandasnya. (Almurfi Syofyan)

kepsen:
TRIBUN JOGJA/ALMURFI SYOFYAN
PATUNG - Sartono membuat patung-patung di rumahnya di Dukuh Sekalekan, Klaten Tengah, Klaten, Senin (7/6).

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved