Breaking News:

Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Lewat Sounds of Borobudur

Candi Borobudur dikenal sebagai monumen peninggalan Buddha terbesar di dunia.

Tangkapan layar
Sounds of Borobudur Persembahkan Orkestra Musik Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Candi Borobudur dikenal sebagai monumen peninggalan Buddha terbesar di dunia. Di mana, pada dinding-dinding candi yang dibangun di masa wangsa Syailendra ini terdapat ribuan pahatan indah termasuk di dalamnya ratusan relief berbentuk alat musik, yang menjadi literatur dan dokumentasi pencapaian leluhur bangsa Indonesia.

Fakta itu membuat banyak kalangan meyakini bahwa Borobudur merupakan salah satu pusat musik dunia. Gambaran alat-alat musik dalam relief, bisa menjadi bukti. Atas keyakinan itu pula, sejumlah musisi kenamaan, berkolaborasi menggarap sebuah karya orkestrasi spesial, di antaranya Purwacaraka, Trie Utami, hingga Dewa Budjana

Karya ini spesial, karena dibuat dengan riset bertahun-tahun, sehingga melahirkan kelompok musik "Sound of Borobudur", yang mengusung sebuah proyek rekonstruksi musik dari abad lampau untuk menggali jejak persaudaraan lintas bangsa. Yayasan Padma Sada Svargantara, Purwa Caraka menyampaikan, musik adalah bahasa universal manusia.

" Penemuan relief alat musik di Candi Borobudur sebenarnya merupakan kejadian yang sudah lama, tidak ada yang istimewa dari kejadian itu, namun hal ini hanya menjadi sebuah ilmu pengetahuan pasif saja,” jelas Purwa saat peluncuran International Conference Sound of Borobudur dengan tema Music over nations yang berlangsung secara virtual, Senin (7/6/2021).

Ia menuturkan dengan ratusan gambar relief alat-alat musik dengan lebih 40 relief panel menunjukkan aktivitas musik di tempat itu pada 13 abad yang lalu dan sejauh ini belum ditemukan di tempat lain. Uniknya lagi sebagian besar alat-alat musik itu tidak ditemukan lagi di Jawa Tengah, tetapi justru ditemukan menyebar di 34 provinsi di Indonesia.

Sebagian alat musim tersevut bahkan ditemukan kemiripannya di 40 negara lain. "Ini menjadi bukti jika Candi Borobudur sebagai pusat musik dunia sekaligus memberikan penguatan kajian-kajian ilmiah mengenai Borobudur di berbagai bidang keilmuan," ujarnya.

Dewan Pakar Sound of Borobudur yang juga guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Prof Melani Budianta Ph.D. menjelaskan bahwa Candi Borobudur merupakan lumbung ilmu pengetahuan dan budaya. "Candi Borobudur bukan sekadar batu atau tempat ber-selfie, tetapi sebuah lumbung ilmu pengetahuan dan lumbung budaya,"ujarnya.

Candi Borobudur juga merupakan lumbung budaya, bukan hanya untuk sebagian orang, tetapi untuk semua orang. Artinya seluruh komunitas yang ada di sekitar Borobudur bisa memakai atau memanfaatkan Borobudur untuk penghidupannya, untuk kreasinya, dan lainnya.

"Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah dan sudah melihat bagaimana teman-teman di Sound of Borobudur (SOB) ini bekerja sejak lima tahun lalu, mereka mendapatkan inspirasi dari panel-panel candi, kemudian mempelajarinya, mencari kaitannya dengan alat-alat musik , dan mencoba memainkannya," ujarnya.

Rencananya, International Conference Sound of Borobudur dibuat satu rangkaian kegiatan internasional lima destinasi super prioritas yang akan diselenggarakan oleh Kemenparekraf dari bulan Juni hingga November 2021.
Khusus International Conference Sound of Borobudur akan berlangsung pada 24-25 Juni 2021, dengan menampilkan musisi dari dalam negeri dan musisis dari 10 negara Asia untuk berkolaborasi membunyikan alat-alat musik seperti yang terdapat pada relief candi Borobudur. Serta, melibatkan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) unggulan kawasan Borobudur untuk memamerkan dan menawarkan keunikan serta kekhasan produknya. (ndg)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Selasa (08 Juni 2021) halaman 06.

Penulis: Nanda Sagita Ginting
Editor: Agus Wahyu
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved