Breaking News:

Feature

Dapur Umum Siaga 24 Jam, Tim Bergiliran Memasak

Siang itu, kesibukan terlihat di posko Tagana, Kabupaten Sleman. Di sanalah dapur umum didirikan. Ada puluhan relawan yang sedang bekerja, memasak.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/ Ahmad Syarifudin
Kesibukan di dapur umum Posko Tagana ketika sedang menyiapkan makanan yang akan didistribusikan kepada warga terdampak Covid-19 di Kabupaten Sleman. 

Siang itu, kesibukan jelas terlihat di posko Tagana, Kabupaten Sleman. Di sanalah dapur umum didirikan. Ada puluhan relawan yang sedang bekerja, memasak dan mengolah bahan pangan. Mereka adalah para pekerja kemanusiaan yang setiap hari menyuplai kebutuhan makan hingga minum, bagi warga terdampak Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) di Bumi Sembada.

KEPALA Posko Tagana Kabupaten Sleman, Sarjiman mengungkapkan, ada dua tim yang bekerja membantu di dapur umum. Masing-masing tim beranggotakan 7-10 orang. Terdiri dari Tagana, Kampung Siaga Bencana (KSB) dan relawan.

Mereka selama 24 jam penuh, memasak secara bergantian. Dalam sehari, dapur umum ini memberikan bantuan makan bagi warga terdampak Covid-19 tiga kali. Pagi, siang, dan sore, dalam bentuk nasi siap saji beserta lauk pauk, minuman, dan juga buah-buahan.

Jadwal pemberian makanan pagi dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Tak heran, tim yang kebagian jatah memasak hari itu, sudah siaga di lokasi dapur umum sejak dini hari. "Timnya ini setiap hari selalu stand by di dapur umum. Persiapan kira-kira mau masak apa, itu biasanya sudah dimulai racik-racik, jam 03.00 WIB. Bahkan kadang jam 02.00 WIB," ucap Sarjiman, Selasa (1/6/2021).

Dapur umum yang didirikan oleh Pemkab Sleman kala itu menyuplai kebutuhan makan untuk 400-an warga di tiga tempat. Rinciannya, selter Asrama Haji 41 bungkus, Rusunawa Gemawang 74 bungkus. Lalu warga Padukuhan Ngaglik, Caturharjo sebanyak 300 bungkus plus buah-buahan.

Menurutnya, dapur umum menyuplai kebutuhan makan bagi warga isolasi maupun warga yang wilayahnya sedang diberlakukan kebijakan lockdown mikro. Seperti misalnya RT 1 dan RT 2 di padukuhan Ngaglik, Caturharjo.

Warga di sana, kata Sarjiman, membutuhkan suplai bantuan makanan karena sedang dilakukan pembatasan mikro. "Kalau di Asrama Haji dan Gemawang itu kan jelas pasien positif. Kalau di Ngaglik, Caturharjo itu kan (warganya di suplai makanan karena lockdown mikro) untuk membatasi supaya virus ndak menyebar," ucapnya.

Tim yang ada di dapur umum bekerja cekatan. Seakan berpacu dengan waktu, mereka membungkus paket makanan dengan cepat. Setelah makanan siap, ada petugas yang mengambil lalu mendistribusikan ke sejumlah tempat tujuan.

Pendistribusian makanan ini, dimulai pagi pukul 07.00 WIB. Lalu, siang maksimal pukul 13.00, sedangkan petang maksimal 18.00 WIB.

10 hari
Kepala Dinas Sosial Sleman, Eko Suhargono mengungkapkan, dapur umum di posko Tagana digunakan untuk menyuplai kebutuhan makan bagi warga terdampak Covid-19. Baik yang sedang menjalani isolasi maupun karantina.

Sejauh ini, kata dia, fasilitas pendukung itu menyuplai kebutuhan makan bagi warga yang sedang isolasi maupun karantina di tiga tempat. Eko mengatakan, bantuan dalam bentuk kebutuhan makan bagi warga terdampak Covid-19 diberikan selama 10 hari, dengan estimasi satu orang menghabiskan 4 ons beras/hari.

Anggaran operasional, sejauh ini masih menggunakan dana dari dinas sosial. Belum menggunakan Dana Tak Terduga. "Tapi akan kami evaluasi terus, sesuai dengan perkembangan," jelas Eko. (Ahmad Syarifudin)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Sabtu (05 Juni 2021) halaman 01.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved