Breaking News:

Sejarah

Tan Malaka Tanpa Sekat Meski Berpendidikan Barat

Ia bahkan mengkritik anak muda yang berpendidikan, tetapi memiliki sekat dengan masyarakat lewat bukunya, Madilog.

Editor: Hendy Kurniawan
UNITED ARCHIVES VIA NATIONAL GEOGRAPHIC
Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka (1897-1949). Ini adalah foto saat Tan Malaka masih muda. 

TRIBUNJOGJA.COM - Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, berangkat kuliah ke Harleem, Belanda, menjelang akhir 1913. Dia berkenalan dengan banyak tokoh-tokoh politik di sana. Meski begitu, tidak membuatnya lantas menjadi eksklusif. Ia tetap membela rakyat di negerinya yang tertindas.

Ia bahkan mengkritik anak muda yang berpendidikan, tetapi memiliki sekat dengan masyarakat lewat bukunya, Madilog:

"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali."

Dia memiliki darah bangsawan dari ibunya yang diwariskan lewat budaya matrilineal Minangkabau. Kebangsawanan ini membuatnya pun bergelar 'datuk' pada 1913. Maka, cukup bila menganggap Tan Malaka adalah seorang yang memiliki privilese.

Masykur Arif Rahman dalam Tan Malaka: Sebuah Biografi Lengkap menulis, Tan Malaka pada 1916 mulai mengikuti Indische Vereeneging yang saat itu diketuai Ki Hadjar Dewantara dan Gunawan Mangunkusumo. Dalam organisasi itu ia aktif ikut rapat dan diskusi membahas kemerdekaan.

Selanjutnya pada 1917, ia juga mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh kiri, seperti Henk Sneevliet, hingga para tokoh revolusi Rusia. Ia baru kembali ke Hindia Belanda pada 1919, setelah sekian lama kepulangannya tertahan akibat pecahnya Perang Dunia I. 

Karena dianggap sukses oleh keluarga dan guru semasa sekolah, ia disarankan untuk mengajar anak-anak buruh di Deli, Sumatra Utara. Pada masa itu Deli dianggap umum sebagai 'tanah emas' yang menghasilkan keuntungan.

Bagi Tan, ungkapan itu hanyalah untuk para imperalis dan kapitalis. Banyak buruh yang yang memeras keringat, dan menjadikan Deli sebagai tanah neraka bagi mereka. (*)

Artikel telah tayang di National Geographic dengan judul Tan Malaka, Bangsawan dari Tanah Minang yang 'Bunuh Diri Kelas'

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved