Breaking News:

Feature

Masyarakat Saptosari Gunungkidul Mulai Alami Krisis Air Bersih

Musim kemarau ini, masyarakat Kapanewon Saptosari Gunungkidul mulai mengalami kesulitan air bersih.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Agus Wahyu
Istimewa
Pipa PDAM yang sempat bocor di wilayah Kapanewon Saptosari, Gunungkidul. Adapun pipa tersebut kini sudah diperbaiki. 

Potongan video aksi warga mengambil air bersih dari pipa yang bocor beredar di media sosial belum lama ini. Menurut informasi yang beredar, pipa tersebut milik PDAM dan berada di wilayah Kapanewon Saptosari, Gunungkidul.

DIREKTUR Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkidul, Toto Sugiharta membenarkan bahwa pipa tersebut dikelola pihaknya. "Pipa yang dilaporkan bocor tersebut sudah kami perbaiki kemarin," kata Toto dihubungi pada Kamis (3/6).
Menurutnya, pipa yang berada jalan penghubung Kalurahan Kanigoro dan Krambil Sawit tersebut kerap mengalami kerusakan pada cincin penghubung antarpipa yang bermaterial berbeda. Pipa baja kemudian diganti dengan jenis PVC dan dipastikan tidak akan bocor lagi.
Bocornya pipa tersebut beberapa waktu lalu langsung dimanfaatkan warga sekitar untuk mengambil airnya. Bagai mendapat berkah, mereka langsung beramai-ramai menampung air yang menyembur dari pipa tersebut dengan ember hingga jeriken. Rabiyati (56), warga asal Pedukuhan Klumprit mengungkapkan kebocoran tersebut baru terjadi kali ini. Bocornya pipa seakan bertepatan dengan masalah sulit air yang mulai menimpa warga.
"Lumayan bisa dapat air bersih tanpa harus beli," katanya pada wartawan.
Kejadian itu sedikit banyak menggambarkan bagaimana warga Gunungkidul hingga saat ini masih bergelut dengan krisis air bersih, ketika musim kemarau telah menghampiri. Klumpit sendiri menjadi salah satu wilayah yang mulai kesulitan air pada musim kemarau ini. Biasanya, warga membeli air seharga Rp150 ribu sampai Rp160 ribu untuk 5 ribu liter guna memenuhi kebutuhannya.
Adapun air dari pipa yang bocor itu kemudian dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, minum, mencuci, hingga memandikan ternak. "Terkadang bantuan dari pemerintah kurang mencukupi sehingga kami harus beli," ungkap Rabiyati.
Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Handoko mengatakan, setidaknya sudah ada 3 kapanewon yang mengajukan permohonan pengiriman (dropping) bantuan air bersih, jelang akhir Mei lalu. "Ketiganya adalah Tepus, Panggang, dan Saptosari," katanya.
Handoko juga menyebut sejumlah kapanewon lain sudah mulai berkomunikasi terkait rencana dropping air bersih. Terkait pemetaan, sejauh ini baru Kapanewon Saptosari yang sudah memberikan data rinci terkait titik rawan kekeringan, di mana ada 38 pedukuhan yang rawan.
"Totalnya sekitar 1.935 Kepala Keluarga (KK) di 38 pedukuhan tersebut," ujar Handoko.
Ia mengatakan hingga saat ini koordinasi masih terus dilakukan dengan para panewu. Terutama untuk pemetaan wilayah rawan kekeringan serta jumlah titik yang memerlukan bantuan. "Tahun ini koordinasinya justru lebih awal, sebab tahun lalu baru dimulai awal Agustus," ungkap Handoko. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved