Breaking News:

Angka Inflasi di DIY

Lebaran Tahun Ini Tak mampu Mengerek Inflasi di Yogyakarta

BPS DIY mencatat Kota Yogyakarta mengalami inflasi sebesar 0,07 persen pada Mei 2021.

Lebaran Tahun Ini Tak mampu Mengerek Inflasi di Yogyakarta
skyscrapercity.com
Kantor BPS DIY

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat Kota Yogyakarta mengalami inflasi sebesar 0,07 persen pada Mei 2021. Inflasi ini termasuk rendah, meskipun pada bulan itu ada Idulfitri, yang di tahun-tahun sebelumnya bisa menaikan angka inflasi lebih besar.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS DIY, Amirudin mengatakan, inflasi bulan Mei 0,07 persen relatif rendah, meskipun masih positif. Ia menjelaskan, pada Mei terjadi kenaikan harga-harga menjelang maupun saat Idulfitri.

Penurunan harga terjadi dua minggu setelah hari raya, sehingga secara agregat terjadi inflasi yang cukup rendah. "Untuk seri inflasi bulan ke bulan (mtm), inflasi Lebaran tahun ini bisa dikatakan yang terendah selama tiga tahun ke balakang. Di mana inflasi Lebaran di tahun sebelumnya di angka 0,22 persen, dan 0,42 persen di tahun 2019," ujarnya, Rabu (2/6/2021).

Sedangkan untuk seri inflasi tahun ke tahun (yoy) juga relatif paling rendah, di mana laju inflasi tahun ke tahun (yoy) 2021 sebesar 1,53 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun kalender 2019 maupun 2020, di mana di 2020 inflasi mencapai 2,09, dan 2019 bahkan relatif tinggi, yakni 3,33 persen.

Adapun kelompok yang memberikan andil dalam inflasi pada Mei 2021, antara lain naiknya indeks harga konsumen kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,02 persen. Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,07 persen dan kelompok transportasi sebesar 0,27 persen.

Sementara untuk kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,26 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,10 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,86 persen.

Kelompok yang mengalami deflasi yaitu makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,17 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen. "Adapun kelompok yang relatif stabil yaitu kelompok pendidikan," tutupnya. (nto)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Kamis (03 Juni 2021) halaman 03.

Penulis: Santo Ari
Editor: Agus Wahyu
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved