Breaking News:

Sport

Beda Prestasi Antara Pemain Basket Pro dan Basket PON DIY, Ini Pendapat KONI DIY

Prestasi Bima Perkasa Jogja dianggap berbanding terbalik dengan kontingen basket DIY yang sudah dua edisi tidak masuk ke ajang PON.

wsucougars.com
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beberapa waktu lalu, tim basket professional asal D.I Yogyakarta, KAI Bima Perkasa Jogja lolos ke babak playoff Indonesian Basketball League (IBL) 2021.

Capaian tersebut merupakan sebuah prestasi, padahal tim tersebut baru terbentuk lima tahun lalu, atau lebih muda dari klub-klub basket di IBL lainnya.

Apalagi, tahun ini menjadi kali ketiganya BPJ masuk ke babak playoff.

Prestasi lainnya juga ditunjukan dari dua tahun terakhir ini, pemain BPJ selalu ada yang masuk nominasi IBL award, bahkan dapat meraihnya di akhir pengumuman.

Sebut saja Tifan Eka Pradita yang mendapat gelar Rookie of The Year tahun 2020, dan setahun setelahnya, 2021, gelar itu didapat Samuel Devin Susanto.

Baca juga: Capaian KAI Bima Perkasa di IBL Pertamax 2021 Bikin Bangga Jogja

Hal itu berbicara bahwa Bima Perkasa Jogja berhasil dalam pembinaan pemain muda.

Bahkan sang pelatih, David Singleton dinobatkan sebagai Coach of The Year 2021 setelah membawa timnya sampai ke babak playoff.

Namun prestasi itu berbanding terbalik dengan kontingen basket DIY yang sudah dua edisi tidak masuk ke ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

Permasalahan itu disinyalir karena minimnya fasilitas dan dukungan dari pihak terkait.

Seperti tidak standarnya lapangan yang dipakai latihan, atau adapun yang standar tapi harga sewanya yang amat mahal.

Halaman
12
Penulis: Taufiq Syarifudin
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved