Breaking News:

Yogyakarta

Pameran Seni Rupa 'Biasa Wae' Berbagi Energi dalam Kebebasan, Keberanian dan Kebiasaan Baru

Pameran ini memamerkan karya tiga perupa, Adhik Kristiantoro, Harlen Kurniawan, dan Wahyu Prasetio 'Bagio'.

TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
Pameran Seni Rupa 'Biasa Wae' di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pada tanggal 22-29 Mei 2021. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pandemi virus Corona tidak hanya mengancam kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental setiap individu.

Tidak hanya rasa takut, efek psikologis yang ditimbulkan pun bisa berdampak serius.

Tak lagi berbicara soal pandemi, karya-karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk 'Biasa Wae' yang digelar di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pada tanggal 22-29 Mei 2021 ingin berbagi energi yakni berkarya dalam kebebasan, berkarya dengan keberanian tanpa ketakutan, serta beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Pameran yang diinisiasi Galeri Lorong dan Barbaradoz Art Familia ini memamerkan karya tiga perupa, Adhik Kristiantoro, Harlen Kurniawan, dan Wahyu Prasetio 'Bagio'.

Selain memajang karya masing-masing, para seniman juga memamerkan sejumlah karya kolaborasi.

Baca juga: Pameran Tunggal Anomaly in Matrimony, Ketegangan Dibalik Parade Sakral

"Dalam kondisi pandemi saat ini, kalau kita memikirkan untuk takut dan tidak bisa berbuat apa-apa dengan alasan segala macam, akhirnya menjadi teror bagi diri sendiri. Tema 'Biasa Wae' saya pribadi maknai sebagai spirit untuk memberi kekuatan pada diri sendiri dan orang lain juga," ujar seniman dalam pameran ini, Adhik Kristiantoro.

Diakuinya, karya-karya yang dipajang di Galeri Lorong ini tidak ada kaitannya atau berbicara spesifik terkait pandemi.

Akan tetapi, lanjut dia, dalam ranah seni rupa, kemerdekaan seorang seniman itu harus muncul dengan gayanya masing-masing.

"Bisa jadi  orang lain menilai dengan situasi pandemi saat ini, semua butuh sebuah harapan untuk bersenang-senang, mungkin ada yang menilai seperti itu," ujarnya.

Hal senada disampaikan Wahyu Prasetio 'Bagio', yang menilai 'Biasa Wae' dalam tema pameran ini ia maknai sebagai spirit untuk melawan ketakutan yang berlebihan di masa pandemi yang hingga kini urung diketahui ujungnya.

"Ketakutan yang berlebihan menurut saya muncul dari simpang siurnya pemberitaan, baik media massa maupun media sosial yang membingkai virus ini laiknya hal yang sangat mengerikan," ujar Wahyu Prasetio 'Bagio'.

Baca juga: Pameran Tunggal Ummi Shabrina Anomaly in Matrimony, Ketegangan di Balik Parade Sakral

"Memang benar kita dalam situasi pandemi, tengah terjangkit wabah. Tapi kita menyikapinya tidak perlu berlebihan, bersikap biasa wae. Ya anggap ini sebagaimana wabah yang sebelumnya pernah terjadi, tetap pakai masker, terapkan protokol kesehatan," tambahnya.

Sementara itu, Octalyna Puspa Wardany dalam esai kuratorialnya yang berjudul 'Membiasakan dengan Kebaruan Tegangan antara Ketakutan dan Ketakpedulian' mengatakan, si revolutor COVID-19 ini benar-benar tak kenal ampun dan tak pandang bulu.

"Semua dihajar. Semua kena. Tak ada jeda. Tak ada ampun. Lengah sedikit, kematian yang membayang. Siksa sakit pun nyata. Semua lini. Semua bidang. Seluruh dunia," katanya.

"Inilah revolusi nyata abad 21 di tengah cepatnya laju perkembangan teknologi informasi yang dilakukan oleh spesies yang bahkan membutuhkan alat bantu khusus untuk bisa melihatnya; virus. Semuanya berubah dan tak lagi sama; menggunakan masker, jaga jarak, jabat tangan berganti adu tinju, pertemuan daring, berbagai jenis tes, berbagai varian baru covid yang semakin ganas, larangan berkumpul dan mudik, hingga vaksinasi," sambungnya.

Berbagai upaya pencegahan dan pengobatan itu diiringi dengan ketidakpastian dan jaminan bahwa manusia dapat benar-benar selamat dan tak terpapar wabah.

"Sungguh, ini kondisi yang menghadirkan ketegangan tersendiri. Banyak informasi yang disebarkan dan terserap kadang justru memberikan efek samping negatif yang menghadirkan kecemasan dan ketakutan hingga paranoid. Reaksi ini muncul pada masa awal wabah ini menyerah di kuartal pertama hingga pertengahan tahun lalu," imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, kita semua mulai beradaptasi dengan berbagai kebaruan kondisi yang merubah tata cara hingga budaya keseharian dalam pertemuan dan berkumpul.

Baca juga: Pameran Tunggal Addy Debil Eyes Shut Fantasia, Berimajinasi untuk Melihat Masa Depan

Hal yang paling tak bisa ditiadakan sebagai makhluk sosial utamanya masyarakat Indonesia yang memang memiliki budaya berkomunitas.

Namun demikian, lanjut Octalyna, mengecilkan hingga menafikan keberadaan virus dan wabah ini juga bentuk ketidakpedulian sebagai bagian dari masyarakat dan warga dunia.

Dalam beberapa hal, memang budaya hidup bersama dilucuti dan "seolah" dijadikan makhluk individual dengan berbagai pembatasan untuk bertemu dan berkumpul, atau berbagai protokol kesehatan yang harus diterapkan ketika bertemu dan berada di tempat umum.

Jika pembatasan ini diterapkan oleh tiap individu, niscaya,masing-masing individu sebenarnya berpartisipasi dalam menjaga keselamatan bersama.

Ketidakpatuhan penerapan protokol kesehatan di Italia pada awal masa wabah ini terjadi dan tsunami COVID-19 di India belakangan ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagi semua orang.

Menjadikan segala kondisi baru beserta berbagai perubahannya sebagai bagian dari keseharian akan selalu menempatkan pada ketegangan antara ketakutan dan ketakpedulian hingga akhirnya menyikapi kebaruan ini sebagai hal yang biasa.

Pada titik itulah, semua kecemasan dan ketakutan menjadi kewaspadaan dengan ketakpedulian menjadi kehati-hatian.

Pada saat itulah, kehidupan kembali bergulir dan bertransformasi dengan cara-cara yang baru.

Baca juga: Pameran Seni Memorabilia Wartawan Udin Hadir di Hari Kebebasan Pers Internasional

Bagi para seniman, menciptakan karya seni dan mempresentasikannya pada publik dikerjakan dengan mengangkat berbagai keseharian hidup sebagaimana yang dilakukan Adhik Kristiantoro, Harlen Kurniawan dan Wahyu Prasetyo 'Bagio.

"Setelah hidup bersama wabah lebih dari satu tahun, karya-karya yang dihadirkan ketiga seniman tak lagi bertutur tentang COVID-19 dan berbagai akibat maupun dampaknya. Ketiganya kembali melukiskan berbagai hal yang mengusik pemikiran dan perasaan masing-masing dalam keseharian hidup; tentang pergulatan diri, hubungan sosial, alam dan lingkungan dengan gaya lukis masing-masing dalam bungkusan tema Biasa Wae," ungkap Octalya.

Terpisah, direktur Galeri Lorong, F. Asisi S. Widianto mengatakan, berpandangan 'Biasa Wae' bukan berarti kita abai terhadap ancaman COVID-19 dan virus-virus yang lain.

Biasa Wae adalah ajakan untuk tetap berjalan seperti biasa dan selalu waspada.

"Bagi Galeri Lorong sendiri, pameran ini adalah pameran kedua di tahun ini. Ngono yo ngono, nanging aja ngono; pandemi boleh terjadi, tapi kreasi jangan mati. Untuk itulah, Lorong menerapkan upaya untuk menjaga kesehatan dengan mengadaptasi protokol yang berlaku," pungkas Widianto. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved